Teruntuk Sealy – Sebuah Surat Refleksi Keagamaan

April 17, 2008

Sealy and her husband

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang menciptakan, yang mengurus dan yang memberi petujuk kepada makhluk-Nya.

Seal, kemarin, kami berkewajiban menghormatimu sebagai sesama ciptaan-Nya, juga menghormati dan menyayangimu sebagai sahabat. Dan kini kewajiban kami bertambah satu, yaitu menghormati dan mencintaimu sebagai saudara, saudara seiman! Sebab seorang muslim dengan muslim lainnya adalah bersaudara, selayaknya satu tubuh, jika satu bagian demam maka semua ikut merasakan. Begitu juga ketika bahagia, semua juga ikut bahagia.

Kami tak bisa membayangkan, betapa rumitnya untuk membuat sebuah keputusan berpindah agama berikut segala konsekuensinya. Karena itu Seal, kami insya Allah siap membantu kapanpun diperlukan.

Seal, kami tak bermaksud menggurui. Bahwa pupuknya iman adalah ilmu. Bahwa Islam bukan hanya masalah hukum halal haram, shalat, puasa, zakat dan haji. Tapi Islam mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk bagaimana berhubungan dengan keluarga, terhadap sesama manusia, juga bersikap terhadap semua ciptaan-Nya. Islam memberi panduan bukan hanya pada perkara-perkara yang besar, tapi juga perkara-perkara yang mikro. Dari hal yang kadang dianggap sepele, misalnya bagaimana masuk ke dalam toilet, sampai ke masalah politik, sosial, budaya, dan makrokosmos. Seal, dalam Islam, sekecil apapun perbuatan bisa menjadi ibadah, entah hanya meyingkirkan duri di jalan atau sekedar memberi senyuman. Karena itu Seal, kami insya Allah selalu bersedia untuk bersama-sama belajar menjadi muslim yang sejati, yang membawa rahmat bagi semesta.

Harapan kami, semoga dengan keislaman, Sealy menjadi seorang anak yang makin sayang dan disayangi mama papa, makin disenangi sahabat-sahabat, juga makin berprestasi. (Wah, jadi malu. Kami yang sudah selama ini, tidak bisa memberikan contoh yang lebih baik, maaf…) Jadi ingat salah satu perkataan Nabi Muhammad SAW, bahwa manusia itu seperti logam mulia, barang siapa yang mulia sebelum masuk Islam, ia juga mulia ketika sudah berislam. Dan kami tahu, Sealy adalah salah satu dari logam mulia itu…

Waduh, kok jadi serius begini. Maaf Seal. Intinya sih kami bahagia, bangga dan insya Allah selalu bersedia membantu.

Dari saudaramu,

Agus


Memecah Communication Barrier dalam Organisasi

April 4, 2008

js.jpgStephen P. Robbins mengingatkan dalam bukunya Organizational Behavior, ada beberapa barrier dalam berkomunikasi, yakni filtering, selective perception, information overload, defensiveness serta bahasa. Latar belakang sosial budaya sangat mewarnai pola komunikasi dalam suatu organisasi, termasuk barrier komunikasinya. Di negeri kita, kolonialisme, feodalisme dan Rezim Orde baru termasuk yang menyumbangkan banyak andil dalam barrier komunikasi. Bawahan terserang sindrom ABS, Asal Bapak Senang, yang membuat mereka melakukan filtering informasi, melaporkan yang baik-baik saja.  Sebaliknya, atasan terserang sindrom defensiveness, tidak suka dikritik.

Kali ini saya hanya ingin membicarakan penggunaan bahasa dalam suatu organisasi dan pengaruhnya dalam barrier komunikasi. Saya ambilkan dua contoh kasus. Di tempat saya bekerja, kami lebih suka memanggil sesama rekan dan atasan yang relatif muda dengan panggilan  ”Mba” dan “Mas” dari pada “Ibu” dan “Pak”. Namun kepada yang sudah “senior”, kami tetap memanggil “Pak” dan “Bu”. Sedangkan di salah satu jurusan di ITB, panggilan “Mas” dan “Mba” kepada senior sampai sekarang masih dipertahankan, bahkan kepada yang sudah sepuh sekalipun, atau kepada profesor.

Mungkin panggilan “Mba” dan “Mas” terdengar sepele, tapi setelah saya renungi dan evaluasi, ternyata efeknya cukup bagus dalam mencairkan barrier komunikasi di lingkungan organisasi. Saya sendiri ketika mengucapkan “Mba” dan “Mas”, seolah-olah saya sedang berbincang dengan kakak atau saudara saya sendiri, sehingga komunikasi menjadi lebih mengalir.

Saya pernah kepikiran, bagaimana kalau menganggap sebuah Divisi di tempat saya bekerja sebagai keluarga kecil. Kepala Divisi (Kadiv) dipanggil “Pak” atau “Bu”, jajaran dibawahnya saling memanggil “Mas” dan “Mba”, serta memanggil Kadiv lainnya dengan sapaan “Pak De” atau “Bu Dhe”. Kalau seperti ini, Direksi dipanggil “Mbah”, Komisaris dipanggil “Mbah Buyut”. Stop!

Saya memang tidak sedang mengusulkan sistem sapaan dalam perusahaan seperti itu, saya hanya ingin menekankan bahwa barrier komunikasi bisa juga diatasi dengan pemilihan bahasa, khususnya panggilan yang lebih informal. Tentunya tanpa menghilangkan kaidah kesopanan dan  kesantunan. Implementasinya  juga fleksibel disesuaikan dengan kondisi perusahaan masing-masing, sebab words mean different things to different people.  Dengan hilangnya barrier komunikasi maka lalu lintas informasi, knowledge sharing, serta sinergi inovasi dalam suatu organisasi akan lebih berkembang dengan dahsyat.  Selamat memecah barrier komunikasi dalam organisasi Anda…