Membangun Ekonomi Pedesaan

petani2.jpgMinggu lalu saya mengunjungi keluarga rekan saya di Talagasari, sebuah desa di Kawali, Ciamis. Desa ini masih terlihat sangat alami: sawah dan perkebunan yang hijau, pepohonan rindang, sungai  dan gemericik airnya, serta kolam-kolam ikan di sekitar perumahan penduduk. Meski desa ini terkesan sepi, infrastruktur dasar bisa dibilang sudah cukup memadai: jalan beraspal, listrik dan telepon telah  menjangkau mereka.

Yang menjadi masalah ternyata kehidupan ekonomi masyarakat desa yang subur dan dilengkapi dengan infrastruktur memadai itu masih belum menggembirakan. Memang sih untuk sekedar makan mereka tidak kesulitan. Akan tetapi mereka akan kesulitan jika akan menyekolahkan anak-anaknya ke luar.  Penyebabnya sederhana saja. Aliran uang yang berputar di dalam desa sangat kecil, karena aliran uang dari kota ke desa hampir nihil. Kecilnya aliran di internal desa pun sekarang makin diperkecil karena disedot oleh  adanya kredit barang-barang sekunder oleh masyarakat pedesaan: motor, televisi, lemari es, dll akibat bombardir iklan yang mengajarkan konsumerisme.

Kecilnya aliran uang dari kota ke desa  diakibatkan karena pertanian dan perikanan  mereka  diorientasikan untuk kebutuhan sendiri. Makanya, di setiap kebun atau sawah penduduk bisa kita temukan berbagai macam jenis buah-buahan: mangga, pepaya, pisang, cabai, jagung, dsb. Banyak jenisnya tapi sedikit kuantitasnya. Demikian juga di kolam-kolam ikan mereka terdapat bermacam-macam ikan: ikan mas, ikan mujair, ikan nila. Karena pola seperti itu lah maka, hasil pertanian dan perikanan mereka tidak bisa menjadi komoditi yang ekonomis untuk dilempar ke pasar karena skala produksi yang menjadi kecil.

Masalah berikutnya yang  dijumpai adalah kesulitan masyarakat desa untuk mengakses pasar.  Ternyata infrastruktur jalan, listrik  dan telekomunikasi belumlah cukup untuk membuat hasil produksi  desa terlempar ke pasar. Saya membayangkan, desa ini dengan infrastruktur memadai seperti itu saja kesulitan menjual hasil produksinya, apalagi daerah-daerah yang belum tersentuh infrastruktur jalan, listrik dan telepon!

Saya mencoba menganalis kesulitan akses pasar tersebut. Menurut saya penyebab utama adalah kurangnya  jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) di pedesaan.  Pola pikir  swasembada pangan yang sudah tertanam di benak masyarakat kadang dipraktikan secara kurang efektif, seperti pada kasus pertanian dan perikanan yang menafikan orientasi pasar. Di sinilah diperlukannya perubahan pola pikir dari orientasi internal menjadi orientasi eksternal dengan memberdayakan potensi dan peluang yang ada. Pola pikir ini hanya terdapat pada jiwa kewirausahaan.

Jadi, memang pemerintah tidak boleh merasa nyaman dengan telah membangun infrastruktur di pedesaan. Pemerintah masih memiliki kewajiban yang lebih penting lagi, yakni membangun jiwa kewirausahaan penduduk desanya baik secara formal dan informal.  Membangun jiwa kewirausahaan secara formal bisa dilakukan pemerintah dengan memberdayakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) - khususnya bidang Pertanian dan Pengolahan hasil pertanian. Sedangkan secara informal bisa melalui pelatihan dan training teknis produksi  dan pengolahannya. Tapi itu semua belum cukup untuk membangun jiwa kewirausahaan, masih diperlukan adanya pelatihan  pembuatan business plan yang menyangkut marketing, administrasi keuangan dan masalah kredit perbankan serta pelatihan creative thinking.

Sebenarnya kalau peran koperasi Unit Desa (KUD) bisa direvitalisasi, akselerasi program pembangunan  ekonomi pedesaan bisa lebih cepat. KUD ini lah yang akan menampung dan memasarkan hasil produksi pertanian dan olahannya dengan dorongan resultan seluruh kekuatan masyarakat pedesaan.

Tapi, tak usah lah berandai-andai. Kita harus tetap berbuat nyata untuk membangkitkan perekonomian pedesaan. Meminjam slogan 3M amalnya Aa Gym : Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri sendiri dan Mulai dari sekarang!

Mahasiswa melalui program Business Incubator dan KKN dari Perguruan Tinggi bisa segera memulai dengan membangun bisnis pengolahan produk pertanian dan perikanan dengan teknologi tepat guna yang mereka ciptakan!

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berlomba-lombalah membantu mengembangkan bisnis di pedesaan berbasiskan sumberdaya yang ada. Jangan hanya berlomba-lomba mengobok-obok pemerintah saja. Memperbaiki NKRI ini tidak mesti harus beraksi dengan berkumpul di bidang politik saja.

Semuanya, Bergeraklah!

About these ads

11 Responses to Membangun Ekonomi Pedesaan

  1. omyosa says:

    MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
    Produk ini dikenalkan oleh pemerintah saat itu sejak tahun 1969 karena berdasarkan penelitin bahwa tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan pemerintah tersebut. Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an pada saat Indonesia swasembada pangan. Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia.
    Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak bijaksana dan tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) pada tanaman padi yang sedang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam budidayanya.
    Petani kita karena sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.
    Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI.
    SIAPA YANG AKAN MEMULAI?
    KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI?
    KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    GUNAKAN NASA UNTUK BERTANI PADI DAN BERBAGAI KOMODITI.
    HASILNYA TETAP ORGANIK, KUALITAS DAN KUANTITAS SERTA PENGHASILAN PETANI MENINGKAT, RAKYAT MENJADI SEHAT, NEGARA MENJADI KUAT.
    omyosa, 08159927152
    papa_260001527@yahoo.co.id

  2. Betul Om-Yosa (benar cara lafalnya?) Tapi menurutku, petani kita memang sangat butuh keteladanan/percontohan. Harus dimaklumi Mas, sebagian petani kita kan belajar bertani secara otodidak, sedangkan peran pemerintah (Deptan) sangat kurang dalam memberikan penyuluhan dan pelatihan bertani yang baik dan benar. Masa di zaman modern ini, pertanian kita dikelola seperti zaman purba.

    Setuju mas, siapa saja yang paham pertanian wajib hukumnya membagikan ilmunya dan siapa saja yang mampu dan peduli, wajib membuat proyek percontohan penerapan teknologi pertanian serta bimbingan bagi petani kita.

  3. qimetz says:

    oh,, gitu yah.. tulisannya bagus mas..
    KKN di desa jadi punya gambaran.. sayang program dari dosen tidak mengacu pada masalah pertanian yang notabene adalah sumber penghasilan utama di desa.. padahal asyik juga kalo bisa ikut membantu petani keluar dari masalah ekonominya,,

  4. Ajat Rukajat says:

    ada yang bisa bantu saya tentang apa itu pupuk NASA dan gmana hitung hasilnya trims banget

  5. Bronto says:

    Bagaimana cara penggunaan pupuk nasa untuk tanam padi ?

  6. Felicia and ayu says:

    yaap setuju ma petani…………….

  7. majulah para petani INDONESIA !

  8. Ahmadi says:

    Sya sangat berharap agar pemerintah merespon dengan baik

  9. mufakhid says:

    Saya merasa malu pada diri sendiri.
    Saya belum bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk warga perkampungan.

    Adakah sahabat membantu saya usaha apa yang cocok, usaha yang dapat melibatkan banyak orang

    Contak saya: 083896379222
    @mail: abdulmufakhid@gmail.com

  10. mufakhid says:

    Tolong bantu ya gan syukron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,318 other followers

%d bloggers like this: