Mengapa Orang Sunda Sulit Melafalkan Huruf “F”?

January 28, 2008

masjid-kasepuhan.jpgSaya sering iseng  bertanya, kenapa orang sunda kesulitan melafalkan huruf “F”? Kesulitan ini tidak hanya di temukan pada masyarakat awam, tapi juga pada masyarakat yang yang tergolong berpendidikan cukup tinggi. Saya pernah menemukan beberapa diktat kuliah Perguruan Tinggi Negeri  ternama di Bandung, yang disusun oleh dosen asli Sunda, yang banyak memuat kekeliruan penulisan antara “F” dan “P”. Sampai ada satu anekdot. Orang-orang Sunda suka membela diri dengan mengatakan, ” Siapa bilang orang sunda tidak bisa bilang “F”, itu teh Pitnah!, Pitnah!”

Memang huruf “F” bukan huruf dan lafal asli daerah Sunda. Huruf “F” berasal dari kosa kata  bahasa  Arab dan Eropa. Yang menarik adalah suku Jawa sebagai tetangga terdekat suku sunda tidak memiliki kesulitan yang berarti dalam melafalkan huruf “F”, kecuali untuk beberapa masyarakat generasi sepuh di pedalaman Jawa.  Padahal Jawa dan Sunda memiliki sejarah yang hampir sama dalam hal interaksi dengan bangsa asing yang telah membawa huruf “F” dalam budaya lisan dan literatur mereka.

Meruntut sejarah Sunda dan Jawa, huruf “F” pertama kali dibawa dan diperkenalkan oleh pedagang bangsa Arab, Persia dan Gujarat yang sekaligus juga menyebarkan agama Islam di Jawa pada abad ke-13. Bangsa Arab memiliki lafal “F” dari huruf asli “Fa’ yang banyak digunakan dalam kosa kata mereka yang tersebar baik dalam bidang perdagangan maupun dalam bidang keagamaan.

Memang Islam lebih dulu memasuki suku Jawa dibanding suku Sunda. Tingkat penyebaran awal  juga lebih luas dengan berdirinya kerajaan Demak yang disokong oleh Wali Sanga-nya.

Berdasarkan sumber sejarah tertulis, Carita Parahyangan, Islam dibawa  ke Tatar Sunda oleh Bratalegawa, atau Haji Purwa, seorang saudagar dan pelayar besar yang juga merupakan anak Sang Bunisora -penguasa kerajaan Galuh. Ia menikah dengan seorang muslimah Gujarat, kemudian masuk Islam  dan kembali ke Galuh pada tahun 1337 Masehi  serta menyebarkan Islam di Cirebon (Caruban) Girang. Namun proses islamisasi Tatar Sunda secara massal baru pada abad ke -16, dengan adanya peran Syarif Hidayatullah atau dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati di Cirebon. Dengan kedudukannya sebagai salah satu Wali Sanga, beliau mendapat dukungan dari Kerajaan Demak secara penuh. Dari Cirebon, Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam ke Tatar Sunda lainnya, seperti Majalengka, Kuningan, Galuh (Kawali-Ciamis), Sunda Kelapa dan Banten.

Untuk kasus di Jawa, modus penyebaran islam yang bergerak dari pesisir ke pedalaman membuat kita mudah memahami mengapa di daerah pedalaman, masih terdapat masyarakat, khususnya generasi sepuh, yang kesulitan melafalkan “F”, misalnya ketika mengucapkan kata “film” (bahasa inggris) menjadi “pilem”. Tapi secara general,  hampir seluruh suku Jawa tidak kesulitan dalam melafalkan huruf “F”.

Sedangkan di Tatar Sunda, kesulitan pelafalan “F” hampir menyeluruh dari pesisir pantai utara sampai pesisir pantai selatan, dari generasi tua sampai generasi sekarang. Kenapa? Saya mencoba menganalisisnya dan membuat teori  untuk menjawabnya.

Huruf “F” lebih banyak tersebar ke masyarakat Jawa dan Sunda melalui bidang dakwah. Sebab bidang perdagangan hanya menyentuh beberapa gelintir masyarakat di daerah pesisir. Bedanya adalah mekanisme internalisasi Islam berikut  budaya lisan dan tulisan yang melekat padanya.

Huruf “F” lebih mudah diserap oleh masyarakat Jawa akibat internalisasi Islam beserta  budaya ikutannya (termasuk huruf “F”) yang dilakukan melalui metode yang mudah diterima dan dipraktikan. Beberapa anggota Wali Sanga di Jawa  banyak menggunakan media seni dan budaya. Yang paling fenomenal adalah peran Sunan Kalijaga dalam mengembangkan wayang purwa atau wayang kullit yang bercorak islam. Beberapa sunan lainnya juga dikenal sebagai ahli gubah tembang Jawa. Sunan Bonang (R. Makhdum Ibrahim) yang dianggap sebagai pencipta gending bermuatan islam. Sunan Drajat (R. Syarifudin) yang terkenal sebagai penggubah tembang Pangkur. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) yang terkenal dengan gubahan gending Maskumambang dan Mijil. Sunan Muria (R. Umar Said) yang menciptakan tembang dakwah Sinom dan Kinanti.

Melalui media seni dan budaya inilah, Islam dan budaya ikutannya menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat pada waktu itu, masyarakat agraris dengan komunikasi “getok tular”. Dengan media seni, akulturasi kebudayaan, termasuk penggunaan dan pelafalan huruf “F” menjadi lebih mudah. Sebab ia tidak hanya digunakan saja dalam ranah ritual di masjid-masjid saja, tetapi budaya ikutannya telah memasuki ranah setiap sendi kehidupan masyarakat, melalui tembang-tembang yang dinyanyikan, melalui pertunjukan-pertunjukan seni yang mereka nikmati.

Memang dakwah di Sunda juga menggunakan media seni dan budaya juga, seperti wayang golek, dangding, guguritan, tradisi upacara (sawer orok, tingkeban, dll) akan tetapi penggunaan media ini tidak seintens seperti di tanah Jawa. Penggunaan media ini baru berkembang pasca Sunan Gunung Jati.

Mungkin ini bisa dipahami dari latar belakang Syarif Hidayatullah. Latar belakang personal beliau tidak bisa dilepaskan dari corak Islam di Tatar Sunda sebab perannya yang sangat  sentral dalam penyebaran Islam di Tatar Sunda. Dalam usia 20 tahun, Beliau telah memiliki tingkat kefakihan yang mumpuni, hasil selama belajar Islam di Mekah, Madinah, sampai ke Baghdad. Sebelum berlayar ke Jawa, beliau pernah singgah di Pasai dan tinggal bersama Maulana Ishak. Latar belakang tersebut menyebabkan dakwah Sunan Gunung lebih “to the point”.

Sunan Gunung Jati juga memiliki keunikan pendekatan dakwah melalui bidang pengobatan. Naskah-naskah kuno Cirebon hampir seluruhnya memberikan informasi tentang peran Sunan Gunung jati sebagai seorang tabib.  

Pendekatan dakwah “to the point” membuat sedikit batas akulturasi kebudayaan Islam dengan budaya asli Sunda, khususnya penyerapan huruf “F” dalam budaya lisan Sunda. Huruf “F” hanya hidup di ranah agama, di lingkungan masjid. Akan tetapi huruf “F” tidak hidup dalam bidang kehidupan sehari-hari lainnya.

Analisis masalah kesulitan pelafalan huruf “F” oleh suku Sunda di atas baru dilihat dari sisi kemungkinan mekanisme akulturasi kebudayaan yang dominan. Sangat mungkin bahwa penyebab utamanya bukan karena itu. Misalnya pengaruh anatomi mulut masyarakat sunda dahulu. Atau  pengaruh prestise trend pelafalan para elit Tatar Sunda waktu itu, seperti tren pengucapan “kan” menjadi “ken” pada masa orde baru. Semoga ahli bahasa Sunda, sejarah dan anthropolog ada yang berminat meneliti masalah ini. 

Referensi:

  1. Bisri, Cik Hasan, Yeti Heryati, Eva Rufaidah (ed.). Pergumulan Islam dengan Kebudayaan Lokal di Tatar Sunda. Bandung: Kaki Langit, 2005
  2. Solihin, M. Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa,2005

Malangnya Pejalan Kaki di Bandung

January 24, 2008

trotoar.jpgKemarin malam, kaki saya terperosok ke dalam lubang di tengah trotoar Geger Kalong. Lecet dan memar di bagian tulang kering. Efeknya saya demam seharian. Kejadian itu membuat akumulasi penilaian saya terhadap  kondisi trotoar di Kota Bandung sangat buruk. Hak-hak pejalan kaki sangat kurang diperhatikan.

Salah satu contoh trotoar yang jelek juga adalah trotoar sepanjang jalan Sumur Bandung. Boleh dibilang di jalan ini sesungguhnya tidak ada trotoar sama sekali. Bahu jalan yang sangat sempit banyak diselingi pohon-pohon yang besar yang memakan hampir seluruh bahu jalan. Padahal pejalan kaki di jalur ini sangat ramai, mahasiswa-mahasiswa ITB, pelajar-pelajar SMU yang mengikuti bimbingan belajar di SSC, Sony Sok Cakep, eh maaf Kang Sony, yang bener Sony Sugema College. Belum lagi pejalan kaki umum lainnya yang menuju Jalan Utama Simpang Dago.

Semua itu memang berawal dari tata kota yang tidak direncana dengan baik. Di Bandung, sekarang tidak bisa dibedakan mana kawasan komersil, perumahan, resapan air, dll. Perumahan di sepanjang jalan raya sekarang sudah  berubah fungsi menjadi tempat bisnis, ada Factory Outlet (FO), restaurant, café, dan sebagainya. Memang sih, peralihan fungsi ini membantu perolehan pendapatan  kota Bandung dari bidang jasa. Tapi karena peruntukan awal yang bukan untuk kawasan komersial menyebabkan lahan dan sarana pendukung kegiatan komersial ini menjadi sangat terbatas, terutama lahan parkir. Terbatasnya lahan parkir ini sering menjadi alasan bagi pemilik kendaraan untuk memarkirkan kendaraannya di lahan pejalan kaki. O, itu belum cukup. Kondisi  tersebut diperparah dengan adanya aktivitas pedagang kaki lima di beberapa trotoar Bandung. Sekarang sempurna lah sudah!

Jadi bagaimana solusinya. Saya sendiri juga bingung. Tapi saya berusaha menyumbangkan ide sebisanya. Kalau toh pun salah wajar saja, saya bukan  seorang ahli tata kota.

Untuk menyelesaikan masalah jeleknya trotoar, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mesti memprogramkan renovasi/pembangunan trotoar sepanjang kota Bandung. Jika lahan untuk trotoar sangat sempit, bisa di-design trotoar di atas drainase (ini bukan ide baru!). Atau jika memungkinkan pelebaran trotoar dengan pembebasan tanah masyarakat. Jika merasa kesulitan anggaran, Pemkot bisa membuat program kerja sama pembangunan trotoar baik dengan swasta maupun masyarakat dalam kemasan yang saling menguntungkan. Misalnya seperti trotoar advertising, jadi pihak swasta bisa menempelkan logonya di bidang trotoar. Atau trotoar seperti “hall of fame” (ini juga bukan ide baru!).

Untuk mengatasi kesemrawutan parkir yang menggangu pejalan kaki dan lalu lintas,  aparat berwenang mesti tegas dalam menindak pemilik kendaraan yang parkir di sembarang tempat. Sedangkan untuk solusi jangka panjang,  Pemerintah Kota bandung harus membuat atau merevisi peraturan mengenai pendirian usaha di suatu lokasi. Untuk mendirikan satu usaha harus ada syarat-syarat yang mesti dipenuhi, yaitu luas lahan parkir minimal yang akan dibangun. Setiap bidang  dan skala usaha harus memiliki standard luas parkir yang mesti dimilikinya ditambah dengan mekanisme peninjauan ulang setiap tahunnya. Jadi bisa saja, suatu usaha skala kecil setelah beberapa tahun menjadi besar, izin lokasi akan dicabut jika tidak melakukan penyesuaian luas lahan parkir sesuai standar bidang dan skala usaha. Lagi-lagi, untuk mengeksekusi peraturan ini diperlukan ketegasan dan kebersihan aparat.

Semoga kedepannya hak pejalan kaki semakin dihormati…


Strategi Merebut Pangsa Pasar BBM Industri Jawa Barat

January 17, 2008

Analisis Pasar BBM Industri Jawa Barat

tanki-bbm.jpgPada tahun 2006, terlihat adanya perubahan profil konsumsi Bahan bakar Minyak (BBM) industri di Jawa Barat akibat adanya pencabutan subsidi BBM dan mulai berlakunya kebijakan diversifikasi energi. Hal ini terlihat jelas pada kasus minyak bakar. Penggunaan minyak bakar pada tahun 2004 sebesar 881.173 kL,  pada tahun 2005 mencapai 1.900.770 kL (meningkat hampir 150%), dan  pada tahun 2006 sebesar 1.624.297 kL (menurun 17%).

Pangsa pasar yang paling potensial untuk diperebutkan adalah segmen konsumen dengan pemenuhan BBM industri tidak kontinyu dari Pertamina. Pada tahun 2006, pangsa pasar segmen ini di wilayah Jawa Barat sebesar 43 ribu KL untuk konsumsi di bawah 100 kL per bulan  dan 36 ribu KL untuk konsumsi di atas 100 KL per bulan (diolah dari data Pertamina). Memang terdapat ancaman bisnis BBM industri dari energi substitusi, yakni batu bara dan gas. Namun dengan memperhitungkan masih terbatasnya infrastruktur jaringan gas dan ketidakpastian pasokan batubara dan diimbangi pertumbuhan industri, ancaman ini masih tidak mampu menurunkan konsumsi BBM industri lebih dari 15%. Dengan memperhitungkan besarnya konsumsi BBM industri, karakteristik konsumsi, serta pertumbuhan industri tersebut dapat disimpulkan bahwa bisnis distribusi BBM industri di Jawa Barat masih menarik.

Meskipun bisnis BBM industri di Jawa Barat masih menarik, namun tetap saja yang diuntungkan dalam industri ini adalah pemain BBM industri yang telah memiliki kompetensi dan jaringan pasar yang sudah luas. Hal ini menjadi sangat penting, sebab dengan naiknya BBM industri akibat melambungnya harga minyak dunia, yang diuntungkan adalah pemain yang mengambil strategi cost leadership dengan memanfaatkan kompetensi dan asset yang telah dimilikinya.

Strategi Merebut Pangsa Pasar BBM Industri Jawa Barat

  1. Apabila Distributor hendak memasuki bisnis BBM industri, adalah satu keharusan bagi Distributor untuk membangun kompetensi di bidang hilir migas ini. Operasional bisnis ini perlu didukung oleh team marketing yang solid yang terlebih dahulu merumuskan target dan strategi marketing yang jelas.
  2. Pasar yang paling feasible untuk dikuasai Distributor adalah wilayah Bandung Raya, dengan mempertimbangkan ketidakterjangkauan dari jaringan gas di Jawa Barat (eksisting, SSWJ dan KALIJA) serta besarnya pasokan BBM tak kontinyu dari Pertamina. Pangsa pasar BBM industri di Bandung sebesar 15 ribu kL, sedangkan di Kota Bandung sebesar 9 ribu kL.
  3. Distributor harus lebih agresif untuk mendekati konsumen menengah-kecil (pemakaian kurang dari 100 kL), yang merupakan 55% market tidak kontinyu BBM industri Jawa Barat.
  4. Untuk bisa bersaing dalam memperebutkan market share BBM industri, selain harus mendapatkan sumber BBM industri yang lebih murah daripada yang ditawarkan oleh kompetitor, Distributor mesti memperkuat posisinya dengan mendasarkan bisnis BBM industri ini pada asset, misalnya melalui pembangunan bunker BBM industri.

Membangun Ekonomi Pedesaan

January 14, 2008

petani2.jpgMinggu lalu saya mengunjungi keluarga rekan saya di Talagasari, sebuah desa di Kawali, Ciamis. Desa ini masih terlihat sangat alami: sawah dan perkebunan yang hijau, pepohonan rindang, sungai  dan gemericik airnya, serta kolam-kolam ikan di sekitar perumahan penduduk. Meski desa ini terkesan sepi, infrastruktur dasar bisa dibilang sudah cukup memadai: jalan beraspal, listrik dan telepon telah  menjangkau mereka.

Yang menjadi masalah ternyata kehidupan ekonomi masyarakat desa yang subur dan dilengkapi dengan infrastruktur memadai itu masih belum menggembirakan. Memang sih untuk sekedar makan mereka tidak kesulitan. Akan tetapi mereka akan kesulitan jika akan menyekolahkan anak-anaknya ke luar.  Penyebabnya sederhana saja. Aliran uang yang berputar di dalam desa sangat kecil, karena aliran uang dari kota ke desa hampir nihil. Kecilnya aliran di internal desa pun sekarang makin diperkecil karena disedot oleh  adanya kredit barang-barang sekunder oleh masyarakat pedesaan: motor, televisi, lemari es, dll akibat bombardir iklan yang mengajarkan konsumerisme.

Kecilnya aliran uang dari kota ke desa  diakibatkan karena pertanian dan perikanan  mereka  diorientasikan untuk kebutuhan sendiri. Makanya, di setiap kebun atau sawah penduduk bisa kita temukan berbagai macam jenis buah-buahan: mangga, pepaya, pisang, cabai, jagung, dsb. Banyak jenisnya tapi sedikit kuantitasnya. Demikian juga di kolam-kolam ikan mereka terdapat bermacam-macam ikan: ikan mas, ikan mujair, ikan nila. Karena pola seperti itu lah maka, hasil pertanian dan perikanan mereka tidak bisa menjadi komoditi yang ekonomis untuk dilempar ke pasar karena skala produksi yang menjadi kecil.

Masalah berikutnya yang  dijumpai adalah kesulitan masyarakat desa untuk mengakses pasar.  Ternyata infrastruktur jalan, listrik  dan telekomunikasi belumlah cukup untuk membuat hasil produksi  desa terlempar ke pasar. Saya membayangkan, desa ini dengan infrastruktur memadai seperti itu saja kesulitan menjual hasil produksinya, apalagi daerah-daerah yang belum tersentuh infrastruktur jalan, listrik dan telepon!

Saya mencoba menganalis kesulitan akses pasar tersebut. Menurut saya penyebab utama adalah kurangnya  jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) di pedesaan.  Pola pikir  swasembada pangan yang sudah tertanam di benak masyarakat kadang dipraktikan secara kurang efektif, seperti pada kasus pertanian dan perikanan yang menafikan orientasi pasar. Di sinilah diperlukannya perubahan pola pikir dari orientasi internal menjadi orientasi eksternal dengan memberdayakan potensi dan peluang yang ada. Pola pikir ini hanya terdapat pada jiwa kewirausahaan.

Jadi, memang pemerintah tidak boleh merasa nyaman dengan telah membangun infrastruktur di pedesaan. Pemerintah masih memiliki kewajiban yang lebih penting lagi, yakni membangun jiwa kewirausahaan penduduk desanya baik secara formal dan informal.  Membangun jiwa kewirausahaan secara formal bisa dilakukan pemerintah dengan memberdayakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) - khususnya bidang Pertanian dan Pengolahan hasil pertanian. Sedangkan secara informal bisa melalui pelatihan dan training teknis produksi  dan pengolahannya. Tapi itu semua belum cukup untuk membangun jiwa kewirausahaan, masih diperlukan adanya pelatihan  pembuatan business plan yang menyangkut marketing, administrasi keuangan dan masalah kredit perbankan serta pelatihan creative thinking.

Sebenarnya kalau peran koperasi Unit Desa (KUD) bisa direvitalisasi, akselerasi program pembangunan  ekonomi pedesaan bisa lebih cepat. KUD ini lah yang akan menampung dan memasarkan hasil produksi pertanian dan olahannya dengan dorongan resultan seluruh kekuatan masyarakat pedesaan.

Tapi, tak usah lah berandai-andai. Kita harus tetap berbuat nyata untuk membangkitkan perekonomian pedesaan. Meminjam slogan 3M amalnya Aa Gym : Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri sendiri dan Mulai dari sekarang!

Mahasiswa melalui program Business Incubator dan KKN dari Perguruan Tinggi bisa segera memulai dengan membangun bisnis pengolahan produk pertanian dan perikanan dengan teknologi tepat guna yang mereka ciptakan!

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berlomba-lombalah membantu mengembangkan bisnis di pedesaan berbasiskan sumberdaya yang ada. Jangan hanya berlomba-lomba mengobok-obok pemerintah saja. Memperbaiki NKRI ini tidak mesti harus beraksi dengan berkumpul di bidang politik saja.

Semuanya, Bergeraklah!


The True Power of Soul and Praying

January 3, 2008

kristal-air.jpgSudah membaca buku The True Power of Water-nya Masaru Emoto? Buku ini merupakan lanjutan dari Buku Emoto sebelumnya, The Hidden Messages in Water, yang mengungkapkan bahwa air bisa dipengaruhi oleh pikiran, kata-kata, dan perasaan kita. Pada The True Power of Water, Emoto menjelaskan lebih lanjut mengenai kemampuan air dalam penyembuhan penyakit (karena sebagian besar komponen manusia adalah air), kemampuan doa dalam pemurnian air, yang dilengkapi dengan foto-foto hasil percobaan pengaruh kata-kata, tulisan dan musik terhadap molekul air. Menurut saya buku ini memang tidak disajikan secara ilmiah. Buku ini lebih terkesan menceritakan pengalaman Emoto dalam melakukan penelitian airnya. Tapi justru disinilah letak hikmahnya : Emoto telah mengajarkan keuletan dalam meneliti sesuatu meski di luar bidangnya (ia berlatar belakang ilmu sosial).

Sayangnya buku ini kurang menjelaskan mekanisme perubahan molekul air akibat pengaruh kata-kata, perasaaan, pikiran yang ditujukan kepada air.

Mekanisme air mampu mendengar mungkin bisa dihubungkan dengan teori fenomena gelombang. Tapi teori ini kurang kuat untuk menjawab pertanyaan: bagaimana jika kita berbicara ”lain di bibir lain di hati”? Apakah air tetap merespon ucapan kita apa adanya? Lebih sulit lagi untuk memahami mekanisme air bisa membaca. Bisa saja dihubungkan dengan teori optik (cahaya), tapi menjadi tidak masuk akal bagi air untuk bisa membedakan tulisan jepang, latin atau arab, atau tulisan baru sekalipun, karena air seperti sangat cerdas dan adaptif. Jadi pasti ada satu bahasa universal yang mampu didengar atau dibaca oleh air!

Saya berfikir, teori fisika tersebut kurang mampu menganalisis mekanisme air mendengar dan membaca. Saya mencoba menggunakan teori interaksi ruh – semesta sebagai alat bantu. Manusia sebagai khalifah Pencipta di bumi, yang bertugas memakmurkan semesta, dilengkapi dengan komponen ruh. Ruh ini berasal dari tuhan dan akan kembali kepada tuhan. Ruh ini memiliki potensi untuk taat atau tidak taat. Taat ini ada dua jenis. Pada taat Rubbubiyah, ruh taat pada pengaturan semesta (hukum alam) yang dibuat oleh Pencipta dan Pengatur (Rabb).  Pada taat uluhiyah, ruh taat pada Pencipta Ruh, sebagai satu-satunya dzat yang layak disembah (ilah). Jadi bisa saja manusia itu taat terhadap pengaturan semesta, tapi ia tidak tunduk kepada Pencipta Ruh atau taat secara dua-duanya.

Nah, semesta ini  diciptakan dengan fitrah “taat” selamanya kepada Sang Pencipta ruh. Oleh karena itu ia akan selalu memberikan respon yang baik kepada ruh-ruh yang “taat”, baik taat rububiyah atau uluhiyah. Tapi tingkat responnya akan lebih besar pada ruh yang taat sekaligus secara rububiyah dan uluhiyah. Tentu saja pengaruh terhadap semesta yang paling besar adalah  tindakan Tuhan. Dengan doa sebagai salah satu bentuk komunikasi ruhiyah manusia dengan Tuhan, semesta akan memberikan respon yang terbaik kepada orang yang berdoa sebagai bentuk ketaatan semesta kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

Kembali pada pertanyaan : Bagaimana air bisa membaca tulisan jepang, tulisan latin atau arab? Air tidak bisa membacanya! Jadi tulisan di wadah air itu tidak bisa mempengaruhi molekul air, tapi yang mempengaruhi adalah kekuatan jiwa manusia yang menempelkan tulisan tersebut atau akibat “campur tangan” Tuhan atas pengaruh doa yang diucapkan.

Jika kekuatan jiwa dan doa bisa mempengaruhi molekul air, ia juga mampu mempengaruhi hidangan yang kita makan. Oleh karena itu, bagi ibu-ibu, jangan sepelekan dalam menyediakan hidangan bagi keluarga. Masakan yang dimasak dengan cinta, dengan kekuatan jiwa dan doa akan berbeda dengan masakan yang dimasak dengan “tanpa perasaan.”

Lebih jauh lagi pengaruh kekuatan jiwa dan doa tidak hanya mempengaruhi molekul air dan  makanan dan benda-benda mati atau makhluk tanpa ruh, akan tetapi ia juga mampu mempengaruhi manusia lainnya melalui mekanisme komunikasi ruhiyah yang cenderung bersifat homogen, artinya ia cenderung berkumpul / berinteraksi dengan ruh yang sejenis dalam ketaatan.

Berdasarkan analisis di atas, judul buku Emoto seharusnya bukan The True Power of Water tapi The True Power of Soul & Praying.