A Creative Marketing Strategy for New Music Album Launching

December 12, 2007

pengamen.jpgJika ada yang bertanya apa barometer musik Indonesia, saya akan menjawab acara pengamen di lampu merah. Lho ini serius, saya tidak sedang bercanda. Saya mempunyai hipotesis bahwa terdapat korelasi positif antara frekuensi lagu yang dinyanyikan oleh pengamen di lampu merah dengan tingkat kepopuleran lagu. Bagi saya ini sangat logis. Menurut saya pengamen di lampu merah itu pada hakikatnya adalah sedang berjualan pertunjukan nyanyi. Untuk mendapatkan apresiasi berupa uang recehan (paling gedhe ribuan) dari pendengar, mereka berusaha tampil maksimal, baik dari segi permainan alat musik atau pemilihan jenis lagu. Saya memiliki keyakinan bahwa mereka menyesuaikan lagu mereka dengan selera pasar, yaitu lagu-lagu yang sedang ngetop. Lagian mereka juga malu dong kalau sampai disebut “musisi jalanan jadul*”.

Beberapa waktu yang lalu saya sering mendengar beberapa bait lagu yang baru saya dengar yang dinyanyikan pengamen-pengamen di lampu merah. Setelah saya melototi acara lagu di televisi, baru saya tahu ternyata lagu itu adalah lagu yang sedang ngetop, yaitu lagu : “Sebelum Cahaya” nya Letto dan lagu “Munajat Cinta” nya The Rock-Ahmad Dhanni. Dari kasus ini saya tambah yakin kalau hipotesis saya benar.

Nah, dari kesimpulan itu saya jadi berpikir, kenapa tidak kita gunakan alur logika terbalik untuk membuat strategi marketing launching lagu-lagu baru. Jadi begini, produser musik melakukan kerja sama dengan para pengamen di kota-kota besar di Indonesia. Konsep perjanjian kerja sama tersebut adalah para pengamen akan menyanyikan lagu yang baru dirilis produser musik minimal berapa kali sehari dengan besaran imbalan tertentu yang disepakati. Saya yakin akumulasi biaya kompensasi bagi pengamen tersebut tidak akan sebesar biaya yang dikeluarkan jika produser musik mengiklankan lagunya di media elektronik. Kerja sama mutualisme! Produser bisa mempopulerkan lagunya dengan lebih hemat dan pengamen mendapat tambahan penghasilan. Saya yakin ini bisa menjadi satu strategi marketing kreatif untuk me-launching lagu-lagu baru. Viva industri musik Indonesia!

 

*) Jadul = jaman dulu, ketinggalan zaman.


Dikotomi IPA – IPS

December 11, 2007

social-asocial.jpg

Ini akibat dari sisa kebudayaan dikotomi Ilmu sosial (social science) dan ilmu alam (natural science). Beberapa orang masih menganggap bahwa ilmu sosial itu lebih rendah dari ilmu alam. Anak di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sering dianggap lebih bodoh dari anak di  bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Kenyataannya anak lulusan IPA di  kemudian hari menjadi natural scientist atau engineer yang kebanyakan bekerja di bawah kendali manager atau direktur yang lulusan IPS. Itu masih di lingkup bisnis dan industri. Kalau kita mau melihat dengan scope yang lebih luas ternyata dunia industri itu diatur oleh orang-orang politik, yang sekali lagi ia jebolan IPS. Di sinilah kemudian orang IPA tersadar, bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan derajat antara ilmu sosial dan ilmu alam, keduanya adalah sama-sama ilmu, yang sama-sama berguna bagi kesejahteraan manusia. Mereka juga tersadar bahwa  di dunia nyata mereka tak hanya bisa bertahan dengan ilmu alam dan teknik yang dibanggakannya,  mereka membutuhkan ilmu sosial!

Kemudian muncullah trend yang berkembang dalam beberapa dekade ini: sarjana dengan latar belakang ilmu alam atau teknik banyak yang melanjutkan jenjang pendidikan program Master of Business Administration (MBA)  atau  dalam versi Indonesia Magister Manajemen (MM). MBA atau MM  sebagai jenjang pendidikan profesi memang cukup memberikan bekal ilmu manajemen secara komprehensif dan relatif cepat kepada para lulusan ilmu alam atau teknik. Di MBA atau MM mereka bisa belajar semua function management: Finance, Human Resource, Operation, dan Marketing  dengan pendalaman di bidang manajemen fungsi yang diminati.

Memang, ilmu manajemen itu bisa dipelajari secara otodidak, melalui buku dan web site. Tapi dengan mengikuti program MBA/MM, pembelajaran menjadi lebih terstruktur dengan akselerasi yang tinggi. Pembelajaran terstruktur ini banyak membantu lulusan IPA, khususnya dalam memahami bidang finance, yang sering menjadi momok bagi lulusan IPA.

Namun ada kekhawatiran saya yang semoga tidak benar bahwa di balik trend ini sebenarnya tersirat arogansi orang IPA: mereka tetap tak mau kalah dengan orang IPS. Tetap saja terdapat dikotomi IPA – IPS!