Karakteristik Bahan dan Aspek Lingkungan Refrigeran Hidrokarbon* – Menuju Indonesia Bebas ODS -

PENDAHULUAN

CFC (Chloro-Fluoro-Carbon) memegang peranan penting dalam sistem refrigerasi, sejak ditemukan pada tahun 1930. Hal ini dikarenakan CFC memiliki properti fisika dan termal yang baik sebagai refrigeran, stabil, tidak mudah terbakar, tidak beracun dan kompatibel terhadap sebagian besar bahan komponen dalam sistem refrigerasi. Akan tetapi setelah masyarakat mengetahui hipotesa bahwa CFC termasuk Ozone Depleting Substance (ODS), yaitu zat yang dapat menyebabkan kerusakan ozon, masyarakat mulai mencoba melakukan penghentian pemakaian ODS dan dituangkan ke dalam beberapa konvensi, seperti Vienna Convention  pada bulan Maret 1985, Montreal Protocol pada bulan September 1987 dan beberapa amandemen lainnya. Pemerintah Indonesia telah meratifikasinya melalui Keppres RI No. 23 tahun 1992.

R-134a sebagai salah satu alternatif memiliki beberapa properti yang baik, tidak beracun, tidak mudah terbakar dan relatif stabil. R-134a juga memiliki kelemahan di antaranya, tidak bisa dijadikan pengganti R-12 secara langsung tanpa melakukan modifikasi sistem refrigerasi (drop in subtitute), relatif mahal, dan masih memiliki potensi sebagai zat yang dapat menyebabkan efek pemanasan global karena memiliki Global Warming Potential (GWP) yang signifikan. Selain itu R-134a sangat bergantung kepada pelumas sintetik yang sering menyebabkan masalah dengan sifatnya yang higroskopis.

Alternatif lain yang ditawarkan adalah refrigeran hidrokarbon. Sebenarnya hidrokarbon sebagai refrigeran sudah dikenal masyarakat sejak 1920 di awal teknologi refrigerasi bersama fluida kerja natural lainnya seperti ammonia, dan karbon dioksida. Hidrokarbon yang sering dipakai sebagai refrigeran adalah propana (R-290), isobutana (R-600a), n-butana (R-600). Campuran yang sering digunakan di antaranya  R-290/600a, R-290/600 dan R-290/R-600/R-600a.

Hidrokarbon memiliki beberapa kelebihan seperti ramah lingkungan, yang ditunjukkan dengan nilai Ozon Depleting Potential (ODP) nol, dan GWP yang dapat diabaikan, properti termofisika dan karakteristik perpindahan kalor yang baik, kerapatan fasa uap yang rendah, dan kelarutan yang baik dengan pelumas mineral.

Pemakaian hidrokarbon dengan isu hemat energi dan ramah lingkungan  masih belum bisa diterima secara luas seperti pemakaian freon sebagai refrigeran. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran masyarakat akan sifat hidrokarbon yang bisa terbakar. Sifat ini sebenarnya tidak membahayakan jika digunakan sesuai prosedur yang benar. Untuk memahami bekerja dengan prosedur yang benar, mau tidak mau diperlukan pengetahuan tentang karakteristik hidrokarbon. Seperti pepatah mengatakan, “tak kenal maka tak sayang”, kita tidak akan mau menggunakan hidrokarbon jika tida mengenalnya. 

REFRIGERAN DAN ASPEK LINGKUNGAN 

Refrigeran kelompok halokarbon merupakan refrigeran sintetik karena tidak terdapat di alam secara langsung. Refrigeran ini mempunyai satu atau lebih atom dari golongan halogen; khlorin, fluorin dan bromin.Meskipun dari segi teknik refrigeran ini mempunyai sifat yang baik, seperti kestabilan yang tinggi, tidak mudah terbakar dan tidak beracun, refrigeran ini termasuk ODS. Jika gas CFC yang memiliki dua atom khlorin terlepas ke udara dan terkena sinar ultraviolet akan terurai. Atom khlorin (Cl) akan terlepas dan bereaksi dengan ozon (O3) mengambil satu atom oksigen dari ozon untuk membentuk khlorin monoksida dan oksigen. Khlorin monoksida akan bereaksi dengan atom oksigen lainnya membentuk molekul oksigen dan atom khlorin membentuk oksigen. Atom khlorin hanya beraksi sebagai katalis dalam reaksi. Oleh karena itu satu atom khlorin mampu terus menerus mengubah ozon menjadi oksigen melalui ribuan reaksi sejenis.  Proses perusakan ozon ini ditunjukkan pada Gambar 1 dan 2.

 1.png  

Gambar 1 Proses penguraian CFC [1]                                        

 2.png

Gambar 2 Pemecahan ozon [1]

Dengan menipisnya lapisan ozon, lapisan pelindung yang terletak pada ketinggian sekitar 15-50 km di atas permukaan bumi, radiasi ultraviolet dari matahari akan langsung  sampai ke bumi yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan gangguan keseimbangan ekosistem.  Ringkasan perbandingan dampak refrigeran terhadap lingkungan CFC-12, HCFC-22, HCFC-134a dan hidrokarbon ditunjukkan pada Tabel 1. Terlihat bahwa hidrokarbon adalah refrigeran yang ramah lingkungan, karena tidak merusak ozon (ODP nol) dan tidak menyebabkan pemanasan global (GWP diabaikan). 

Tabel 1 Perbandingan dampak terhadap lingkungan [2]

Refrigeran Formula Usia aktif (tahun) ODP GWP
CFC-12 CCl2F2 120 1.0 4000
HCFC-22 CHClF2 13.3 0.055 1700
HFC-134a CH2FCF3 14.6 0 1300
Hidrokarbon CnHm <1 0 -

Kebijakan Internasional dan Nasional Mengenai Dampak Lingkungan Refrigeran

Kesadaran masyarakat internasional akan pentingnya menjaga lapisan ozon dituangkan ke dalam berbagai konvensi, antara lain:

  • Vienna Convention , 22 Maret 1985, Austria, tentang perlindungan ozon.

  • Montreal Protocol, September 16, 1987, Canada. Zat yang termasuk ODS menurut Montreal Protocol antara lain: CFC (R-11, R-12, R-13, R-111, R-112, R-113, R-114, R-115), HCFC (R-22, R-123, R-124, R-141, R-142), Halon (Halon-1211, Halon-1302, Halon-2402), dan lainnya (Carbon Tetrachloride, Methyl Chloroform, Methyl bromide).

  • London Amendement, 27-29 Juni 1990, tentang jadwal penghapusan produksi ODS.

  • Copenhagen Amendement, 23-25 November 1992, Denmark, tentang penjadwalan penghapusan HCFC.

Perhatian pemerintah Inddonesia dituangkan ke dalam berbagai peraturan baik berupa keputusan presiden maupun keputusan menteri antara lain :

  • Kep. Pres No:23 Tahun 1992, meratifikasi Konvensi Wina, Montreal Protocol dan Amendemen London.  

  • Kep. Menperindag No: 110/MPP/Kep/1/1998, mengenai pelarangan memproduksi barang yang menggunakan ODS dan kewajiban barang baru menggunakan zat non ODS. Bahan ODS dan barang yang terbuat dari ODS hanya dapat diperdagangkan sampai 2005.

  • Kep. Menperindag No: 111/MPP/Kep/1/1998, mengenai pelarangan import ODS dan pembatasan import CFC-12 untuk keperluan purna jual sampai tahun 2003 sebanyak 700 ton melalui importir terdaftar.

  • Kep. Menperindag No: 410-411/MPP/Kep/9/1998

  • Kep. Menperindag No: 789-790/MPP/Kep/12/2002, mengenai perpanjangan izin import ODS oleh importir terdaftar sampai 31 Desember 2007.

KARAKTERISTIK TERMOFISIKA HIDROKARBON 

Pemilihan hidrokarbon sebagai refrigeran alternatif ramah lingkungan pengganti CFC dan HCFC harus memperhatikan beberapa hal diantaranya titik didih pada tekanan normal , kapasitas volumetrik dan efisiensi energi. Titik didih harus diperhatikan untuk menjamin apakah tekanan operasi sama dengan CFC untuk menghindari keperluan penggantian peralatan tekanan tinggi seperti kompresor.

Salah satu refrigeran hidrokarbon yang digunakan sebagai contoh dalam makalah ini adalah MUSICOOL, yang  diproduksi oleh Pertamina Unit pengolahan III Plaju. Sifat fisika refrigeran hidrokarbon MUSICOOL berdasarkan pengujian laboratorium Pertamina ditampilkan pada Tabel 2, yang menunjukkan bahwa hidrokarbon MUSICOOL (MC) mampu menggantikan refrigeran sintetik (CFC, HCFC, HFC) secara langsung tanpa penggantian komponen sistem refrigerasi. MC-12 menggantikan R-12, MC-22 menggantikan R-22 dan MC-134 menggantikan R-134a.  Sifat fisika dan termodinamik hidrokarbon MUSICOOL memberikan kinerja sistem refrigerasi yang lebih baik, keawetan umur kompresor, dan hemat energi. Beberapa parameter perbandingan kinerja MUSICOOL terhadap refrigeran sintetik pada system refrigerasi dengan beban  1 TR pada suhu kondensasi 100 oF dan suhu evaporator 40 oF. ditunjukkan pada Tabel 3. 

Tabel 2 Sifat Fisika  dan Thermodinamika

No Parameter R-12 MC-12 R-22 MC-22 R-134a MC-134
1. Normal boiling point, °C -29.75 -32,90 -40.80 -42,05 -26.07 -33,98
2. Temperatur kritis, °C 111,97 115,5 96 96,77 101,06 113,8
3. Tekanan Kritis,  psia 599,9 588,6 723,7 616,0 588,7 591,8
4. Panas jenis cairan jenuh pada 37,8° C, Kj /Kgk 1,026 2,701 1.325 2,909 1,486 2,717
5. Panas jenis uap jenuh pada 37,8 ° C, Kj/ Kgk 0.7493 2,003 0,9736 2,238 1,126 2,014
6. Tekanan cairan jenuh pada 37,8 °C, psia 131,7 134,4 210,7 188,3 138,9 139,4
7. Kerapatan cairan jenuh pada 37,8°C, ( kg/m³ ) 1263 503,5 1138 471,3 1156 500,6
8. Kerapatan uap jenuh pada 37,8°C  ( kg/m³ ) 51,46 17,12 62,46 28,53 47,05 17,76
9. Kerapatan uap jenuh pada NBP, kg/m³  6,29            1,642       4,705       2,412  5,259  1,642
10. Konduktivitas Termal cairan jenuh 37,8°C,w/mk 0,0628 0.0898 0.0778 0.0868 0.0756 0.0896
11. Konduktivitas Termal uap jenuh 37,8°C,w/m k 0.0112 0.0194 0.0128 0.0211 0.0195 0.01955
12. Viskositas cairan jenuh pada 37,8°C, uPa-s 166,5 103,6 143,1 84,58 102,5 101,6
13. Viskositas uap jenuh pada 37,8°C, uPa-s 12,37 7,997 13,39 9,263 8,064 8,044

 Tabel 3 Perbandingan kinerja MUSICOOL dengan refrigeran sintetik

  

No. Parameter R-12 MC-12 R-22 MC-22 R-134a MC-134
1 Rasio Tekanan Kompresi 3.1 3.1 3.0 2.8 3.4 3.1
2 Efek Refrigerasi, Kj/Kg 1.25 314 168 299 159 314
3 Aliran  gas, Cfm/Ton 8.21 3.28 6.12 3.44 6.49 3.28
4 Koefisien Performance, COP 3.35 3.39 3.20 3.26 3.31 3.38
5 Temperatur glide, K - 7,8 - 0.1 - 7.7

Pemakaian hidrokarbon lebih efisien dibandingkan dengan refrigeran sintetik, yang ini ditunjukan oleh COP (Coefficient of Performance) yang lebih besar. Hal ini disebabkan sbb:

  • Rasio tekanan (perbandingan tekanan dorong dengan tekanan hisap kompresor) yang lebih kecil dari rasio tekanan refrigeran sintetik. Karakteristik ini dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5. Hal ini mengakibatkan kecilnya kerja kompresor yang diperlukan sehingga menghemat konsumsi energi, yang ditunjukkan dengan penurunan arus listrik 10-20%. Oleh karena itu arus listrik name plate tidak bisa dijadikan patokan ketika melakukan retrofit dengan hidrokarbon.

  • Kalor laten dan efek refrigerasi yang lebih besar dari refrigeran sintetik. Karakteristik ini mengakibatkan kapasitas pendinginan dan cooling rate yang lebih besar dari kapasitas pendinginan dan cooling rate dengan refrigeran sintetik. Perbandingan kalor laten dan efek refrigerasi antara freon dan hidrokarbon dapat dilihat pada Gambar 6 dengan 7 dan Gambar 8 dengan 9.

  • Kerapatan (density) hidrokarbon yang lebih kecil dari kerapatan refrigeran sintetik. Hal ini mengakibatkan jumlah pemakaian hidrokarbon lebih sedikit, sekitar 30% dari berat penggunaan refrigeran sintetik untuk volume yang sama.

  • Viskositas yang lebih kecil dari refrigeran sintetik. Hal ini mengakibatkan kecilnya rugi-rugi tekanan sepanjang sistem refrigerasi yang meringankan beban kompresor dan mengawetkan sistem refrigerasi.

  3.png            

Gambar 3 Grafik Tekanan vs Temperatur R-12 dan MC-12  

 4.png

Gambar 4 Grafik Tekanan vs Temperatur R-134 dan MC-134  

 5.png

Gambar 5 Grafik Tekanan vs Temperatur R-22 dan MC-12

 6.png

Gambar 6 Grafik Entalphi MC-12 

 7.png

Gambar 7 Grafik Entalphi MC-12    

 8.png

Gambar 8 Grafik Entalphi R-22   

 9.png

Gambar 9 Grafik Entalphi MC-22  

Sifat Zeotropik dan Azeotropik Hidrokarbon

Refrigeran hidrokarbon dapat berupa zat tunggal (misal MC-22 yang merupakan propana) atau campuran (misal MC-12 dan MC-134 yang merupakan campuran dari propana, isobutana dan n-butana).

Refrigeran hidrokarbon campuran bersifat zeotrop, berperilaku sangat berbeda dibanding dengan zat tunggal atau campuran azeotropik. Campuran ini tidak menguap dan mengembun pada suatu temperatur tetap, tetapi pada kisaran tertentu yang sering di sebut dengan glide. Refrigeran ini tepat berada pada titik didih (buble temperature) saat campuran tepat seluruhnya mencapai keadaan cair yaitu tepat pada akhir proses pengembunan. Refrigeran ini tepat berada pada titik embun (dew temperature) saat campuran tepat seluruhnya mencapai keadaan uap yaitu pada akhir proses penguapan. Temperatur glide ini dapat dilihat pada Gambar 10.

Efek temperatur glide ini akan berpengaruh besar pada proses di dalam evaporator dan kondensor. Temperatur penguapan meningkat dengan semakin lanjutnya proses penguapan berlangsung, sedangkan di dalam kondensor temperatur pengembunan menurun bersamaan dengan berlangsungnya proses pengembunan. Perubahan temperatur pada tekanan tetap ini merugikan efek perpindahan kalor pada evaporator dan kondenser. Oleh karena itu standard maksimal glide temperature yang diijinkan untuk refrigeran adalah 12 K [3].

Dengan dasar itulah maka proses retrofit menggunakan refrigeran hidrokarbon campuran (MC -12 dan MC-134) dilakukan pada fasa cair untuk menjaga komposisi campuran dan menjaga agar glide temperatur tidak berlebih. Retrofit MC-22 bisa dilakukan pada fasa cair dan gas, karena merupakan zat tunggal.

10.png 

Gambar 10 Efek glide pada sistem refrigerasi berrefrigeran zeotrop[4] 

Flammability Hidrokarbon

Hidrokarbon dapat terbakar bila berada di dalam daerah segitiga api yaitu tersedianya : hidrokarbon, udara dan sumber api. Jika salah satu dari ketiga faktor tersebut tidak terpenuhi maka proses kebakaran tidak akan tejadi. Hal ini mengakibatkan tidak akan terjadi kebakaran di dalam sistem refrigerasi karena tidak adanya udara (tekanan sistem refrigerasi lebih tinggi dari tekanan atmosfer).

Hidrrokarbon termasuk kelompok refrigeran A3, yaitu refrigeran tidak beracun yang mempunyai batas nyala bawah (Low Flammability Limit/LFL) kurang daaaari 3,5%. Hidrokarbon dapat terbakar jika berada di antara ambang batas nyala 2-10% volume. Bila konsentrasi hidrokarbon di udara kurang dari 2% maka tidak cukup hidrokarbon untuk terjadinya pembakaran, demikian juga bila konsentrasinya di atas 10% karena oksigen tidak cukup untuk terjadinya pembakaran. Secara praktis batas  nyala bawah sekitar 35 g/m3 bagi rata-rata refrigeran HC di udara [3].

Sifat  flammable hidrokarbon dapat diantisipasi dengan memperhatikan prosedur dan standard kerja, di antaranya Standard Nasional Indonesia (SNI), standard Inggris BS : 4434 tahun 1995 standard Jerman DIN 7003, standard Australia AS 1596-1989 dan AS 1677. 

MATERIAL KOMPATIBILITAS HIDROKARBON 

Berdasarkan hasil analisa pengujian secara laboratorium dan aplikasi dilapangan, refrigeran hidrokarbon tidak merusak material sistem refrigerasi.  Sifat hidrokarbon terhadap material diantaranya:

  • Tidak merusak semua jenis logam dan desikan  yang dipakai sistem refrigerasi

  • Tidak merusak bahan elastomer yang biasa digunakan kecuali elastomer berbahan dasar karet alam dimana CFC, HCFC dan HFC juga dapat merusaknya.

  • Bisa menggunakan pelumas R-12, R-22 dan R-134a, hanya karena sifatnya yang dapat bercampur baik dengan pelumas maka disarankan menggunakan pelumas dengan indeks viskositas yang lebih tinggi.

Tabel 6 menunjukkan hasil tes laboratorium terhadap kandungan logam dan keasaman pada oli pada rentang waktu pemakaian yang sama. Hasil tes ini menunjukkan bahwa refrigeran hidrokarbon lebih kompatibel terhadap material komponen sistem refrigerasi. Sifat hidrokarbon ini  mengawetkan komponen sistem refrigerasi. 

Tabel 6 Hasil tes kandungan asam dan logam pada oli   

No

Refrigeran/ Oli

Acidity

(ppm)

Fe

(ppm)

Cu

(ppm)

Al

(ppm)

1 CFC-12/ Oli  Mineral  (Patil, 1997)

85.34

<1 <1 <1
2 Hidrokarbon / Oli Mineral  ( Patil, 1998 )

40.54

<1 <1 <1
3 HFC-134a / polyolester oil  ( Patil, 1998 )

3890

60 3.25 8.7

KESIMPULAN

 

 

Refrigeran hidrokarbon merupakan refrigeran alternatif jangka panjang refrigeran CFC/HCFC. Dua keunggulaan penting yang dimilikinya adalah ramah lingkungan dan karakteristik termodinamika yang handal sehingga meningkatkan kinerja dan menghemat konsumsi energi sistem refrigerasi secara aman.    

DAFTAR PUSTAKA 

  1. United Nations Environment Programme Industry and Environment, Chillers and Refrigerant Management, United Nations Publication, Paris,1994.

  2. Watanabe, Koichi, Widiatmo, Januarius V., Alternative Refrigerants and their thermophysical Properties Research, Seminar on ODS Phase Out, 5-7 Mei 1999, Bali

  3. Ecofrig, Refrigeration Appliances Using Hydrocarbon Refrigerants, Ecofrig publication, United Kingdom, 1997.

  4. Jazwin, Richard, Alternative Refrigerants, ICI Klea, Wilmington, 1995.

*) Makalah ini disampaikan pada Pelatihan Penggunaan Refrigeran Hidrokarbon pada Mesin Pendingin di Bandung, 18 Desember 2004 yang diselenggarakan oleh Himpunan Praktisi Tata Udara dan Refrigerasi (HIMPATUR). Makalah ini ditampilkan kembali pada web site ini dalam rangka peringatan berakhirnya jangka waktu izin import ODS di Indonesia pada akhir tahun 2007.

38 Responses to “Karakteristik Bahan dan Aspek Lingkungan Refrigeran Hidrokarbon* – Menuju Indonesia Bebas ODS -”

  1. yana Says:

    saya sala satu praktisi tata udara, yang samapai saat ini sekitar 40 % yang sudah menngunakan refrigerant ramah lingkungan, non cfc, yanga jadi kendala adalah masalah muda terbakar, sedangkan pemanfaatan dari non cfc yang terasa adalah pendinginan yang cepat dan penurunan daya,
    Sayang rata-rata customer yang menggunakan HC adalah yang sudah tersentuh oleh ISO, bukan sadar lingkungan

    alamat himpunan praktisi tata udara dimana yah????

    terimakasih

  2. Agus Fitriandi Says:

    Wah, seneng ketemu Pak Yana. Betul Pak, kalau saya lihat juga demikian. Alasan pindah ke HC paling banyak karena tuntutan ISO 14000 (tapi terpaksa), alasan berikutnya karena penghematan yang dihasilkan HC. Belum meluasnya penggunaan HC secara signifikan juga akibat sosialisasi yang masih kurang dari Pemerintah juga Pertamina sebagai salah satu produsennya.

    HIMPATUR dulu dibentuk dan dibidani oleh pengajar-pengajar Teknik Pendingin STT Bina Tunggal, Bekasi, jadi kalau ingin berhubungan dengan HIMPATUR akan lebih mudah jika menghubungi Laboratorium Teknik Pendingin STT Bina Tunggal, Jl. H. Wahab Affan No. 1 Pondok Ungu, Medan Satria, Bekasi. Telp. 8844812, Fax 8861147. Contact Person bisa ke Bpk Ir. Tatang Hidayat, MSc atau Bpk Widodo, ST, MT.

  3. Muh.teguh Saputra H.R Says:

    Bukannya non cfc itu refrigerant baru dari panasonic ( R 410 a).yg tdk akan merusak lapisan ozon.Mohon penjelasan

  4. Agus Fitriandi Says:

    Pak Teguh, istilah non CFC itu cakupannya luas, artinya semua refrigeran yang bukan CFC (salah satu merk dagangnya Freon). Non CFC itu ada yang natural dan sintetik. Yang natural adalah hydrokarbon (Propana, Butana dan campurannya). Yang sintetik salah satunya adalah R-410A, yang digunakan sebagai refrigeran alternatif dari R-22 (HCFC) yang sudah di-phased out. R-410A ini merupakan campuran dari difluoromethane (CH2F2 atau R-32) dan pentafluoroethane (C2HF5 atau R-125). R-410A tidak merusak ozon, sayangnya Global Warming Potential (GWP)-nya masih tinggi (sekitar 1725).

  5. permohonan Says:

    Kepada Yth:

    Bagian Pertamina Unit pengolahan III Plaju.

    Dengan hormat, saya widyo salah satu mahasiswa yang sedang mengadakan penelitian akhir tentang “Pengaruh Penelitian Pipa Kapiler pada Saluran Isap Terhadap Performansi Mesin Pengkondisian Udara” saya mengunakan refrigerant musicool dan mengalami kendala perhitungan dengan musicool, dikarenakan tabel yang saya gunakan untuk perhitungan entalphi tidak ada. Karena yang selama ini banyak beredar dan dibuku adalah tabel r-22, kiranya bapak dapat membantu saya dengan memberikan data tentang Tabel mc-22 cairan, uap jenuh dan panas lanjut.

    Demikian permohonan saya, atas perhatian serta kebijaksanaan yang bapak berikan kami ucapkan terima kasih.

    Yogyakarta,24 September 2008

    Pemohon.

    Widyo Agung Prabowo.

  6. Agus Fitriandi Says:

    Mas Widyo, surat Mas akan saya sampaikan ke rekan-rekan dari Pertamina. Saya juga memiliki beberapa data Thermofosika (P vs T, Entalphi) refrigeran Musicool yang dikeluarkan Penelitian & Laboratorium Pertamina (data tahun 2003-2004), kalau perlu saya share juga ke Mas Widyo. OK, itu penelitian yang bagus itu Mas, spesifik pada pipa kapiler, jadi bisa lebih dipahami karakteristik lapangan Musicool di situ.

  7. ariany Says:

    Sama seperti mas Widyo Agung Prabowo, saya juga sedang mengkaji pemakaian hidrokarbon pada kapal-kapal niaga namun saya terhambat pada phisical properties n thermodinamic data produk musicool.
    mohon bantuannya n terima kasih sebelumnya

    surabaya, 11 november 2008

    -ariany-

  8. Agus Fitriandi Says:

    @ Ariany: OK Ariany, saya minta alamat emailnya. Saya siap bantu.

    @ Mas Widyo: Mas, tolong juga kirim ke saya alamat email, saya kesulitan kontak dengan Mas Widyo.

    email saya: andy@jasa-sarana.co.id

  9. oki Says:

    no

  10. yana Says:

    web site nya baru ketemu lagi…..
    masalah dampak lingkungan ( lapisan OZOn), Refrigeran yang paling disoroti adalah R-11 dan R-12 ( ktagori DPO yang tinggi), yang jadi masalah bagi saya sebai praktisi dilapangan adalah penggani R-11, yang biasa di gunaka untuk FLASHING ( membersihka pipa dari kotoran ), ada temen- temen yang tahu penggantinya
    terimakasih…

  11. rachmat ss Says:

    saya ingin bertanya , apakah sudah ada aplikasinya mengenai refrigeran hidrokarbon pada chiller centrifugal , kalau ada dimana dan faktor2 apa saja yang perlukan untuk faktor safetynya

  12. Agus Fitriandi Says:

    Pak Rachmat Yth., sepengetahuan saya hidrokarbon murni belum dipakai untuk compressor centrifugal, karena massa jenis hidrokarbon yang kecil. Pada kompressor centrifugal diperlukan impeller Mach number tertentu yang sangat tergantung dengan berat molekul/acoustical velocity refrigerant. Agar bisa dipakai di compressor centrifugal, refrigerant hidrokarbon perlu dicampur dengan refrigerant lain sehingga memenuhi impeller Mach number yang cocok. Dupont sudah mematenkan salah satu campuran refrigerant itu.

  13. suharto Says:

    saya suharto dari teknik fisika itb.
    apa anda memiliki grafik musicool-22?
    saya membutuhkannya untuk pengerjaan tugas akhir.
    kalau ada saya mohon bisa dikirimkan ke email saya. terimakasih.
    pixel_axyz@yahoo.com

  14. Agus Fitriandi Says:

    OK Mas Suharto, saya punya. Segera saya kirim. Di TKL Toh? Salam buat pak Wisnu.

  15. novax Says:

    Selamat Siang, saya ingin menanyakan apakah ada data2 tentang kantor2 dan perusahaan di semarang yang sudah menggunakan hidrocarbon / musicool ?

  16. Agus Fitriandi Says:

    @ Novax: Maaf, saya tidak punya data kantor/gedung di Semarang yang sudah memakai HC/MC, tapi data untuk wilayah Jadebotabek saya punya. Kalau mau, kontak teman saya yang dulu jadi agen Musicool di Semarang. Mas Resa dari CV Mitra Pratama. Jl Soekarno Hatta No. 28 (Arteri Tlogosari) Semarang. Telp. 024-6732662

  17. Rudy Nugroho Says:

    Mas REZE yang disebutin di atas masih jadi agen Musicool di semarang? Ada agen lain ngga Mas?

  18. Agus Fitriandi Says:

    Pak Rudy, setelah berhasil saya kontak, Mas Resa sudah tidak jadi agen MC, beliau fokus di bidang lain. Kalau mau, Bapak bisa menanyakan lebih lanjut daftar agen Musicool ke UP III Pertamina Plaju atau ke P&L Pertamina Pulogadung. Atau hubungi salah satu agen Musicool GLOBALINDO NIAGA PRIMA, Alamat Kemang Pratama, Jl. Niaga 4 / E-63, Bekasi 17424 – Jawa Barat, ph: 021-95493863. Untuk daerah dekat Semarang, yang sudah pakai Musicool (untuk chiller) kalau tidak salah PT Jarum Kudus.

  19. jazai tirto utomo Says:

    pak, saya salah satu konsumen refrigerant HC dr kanada…2 unit ac dirumah saya sudah diretrofid dr 6 bln yg lalu…berbagai perbedaan telah saya rasakan…intinya positif dr penghematan & non ODP, Non GWP. saya ining tanya kenapa yg anda tonjolkan hanya musicool….???? biar fair sampaikan juga produk yg lain..saya mau tanya tolong disebutin PH Diagram dari musicool
    terima kasih

  20. Agus Fitriandi Says:

    Terima kasih atas comment-nya, Pak Jazai. Syukur, Bapak sudah pakai HC refrigerant dan merasakan manfaatnya.

    Kalau di sini saya tonjolkan Musicool (MC), karena saya lebih memiliki data lengkap termophysics Musicool (MC)dibanding HC refrigerant lainnya. Kebetulan saya cukup lama terlibat di awal pengembangan MC (semula Petrozon).

    Produk refrigerant selain MC memang banyak Pak, kalau lokal ada Hi Cool, kalau import ada Duracool dan Redtek dari Canada, Hy Chill dari Australia, Cold dari Thailand, dll. Masalah kualitas produknya saya pikir seragam, paling tinggal harganya yang berbeda.

    PH diagram MC sudah ditampilkan pada tulisan di atas, Pak, Gambar 7 dan 9.

  21. ardi Says:

    pak, sy ingin menanyakan bukankah untuk retrofit gas refrigerant ke HC diperlukan alat ? dimana saya bisa mendapat informasi untuk membeli alat tersebut ? dan apakah pengerjaan retrofit ini diperlukan izin ?

    • Agus Fitriandi Says:

      Alat-alat yang dipakai sama dengan alat2 untuk mengisi refrigeran sintetik (freon). Bapak bisa beli di toko alat-alat refrigerasi. Untuk retrofit standard ramah lingkungan, Bapak memerlukan alat freon recovery, agar freonnya tidak dibuang sembarangan ke udara (akan merusak ozon). Alat vacuum juga bisa dipakai untuk recover si freon ke dalam tabung. Kalau izin pengerjaan retrofit tidak ada, Pak. Yang ada seringnya adalah sertifikat pelatihan penanganan refrigeran hidrokarbon, karena penanganannya berbeda sedikit dengan freon. Pertamina sering mengadakan pelatihan retrofit dg refrigeran hidrokarbon.

  22. zaki Says:

    Pak.
    Saat ini saya berencana mengaplikasikan musicool MC-12 pada salah satu unit refrigerasi dengan kompressor hermetic (seperti pd kulkas)sebagai pengganti R-12.
    Yang ingin saya tanyakan bagaimana cara pengisian musicool pada unit tersebut? Apakah sama dgn cara pengisian R-12 melalui saluran suction (hisap)? Jika diisi melalui suction, apakah tabung musicool harus dibalik pada saat proses pengisian?
    Terima Kasih.

    • Agus Fitriandi Says:

      Cara pengisian hampir sama, Pak. Yang perlu diperhatikan adalah aspek safety: terutama jangan merokok saat mengisi. Patokan pengisiannya jangan disamakan dengan massa freon, karena hidrokarbon lebih ringan (sekitar 1/3). Lebih aman menggunakan patokan tekanan sistem refrigerasi. Betul diisi lewat suction, tapi karena hidrokarbon masuk dalam fasa cair, maka pengisian dilakukan secara pelan-pelan (jangan seperti waktu mengisi dengan freon). Tabung refrigeran hidrokarbon tidak perlu dibalik, karena di dalam tabung sudah dilengkapi pipa sampai ke dasar tabung (seperti tabung LPG). Untuk lebih detilnya saya akan kirim e-mail booklet petunjuk pengisian HC pada sistem refrigerasi. Selamat Mengaplikasikan, Pak Zaki…

  23. hariyadi Says:

    pak saya mau mengganti R 22 dg MC 22 dikantor saya 10 unit,bisakah bapak kirim email ke saya tentang cara penisian MC 22 yang benar & bagaimana dengan R 22,harus dikemanakan ?.bagaimana cara modifikasi mesin vakum menjadi mesin rekoferi ?.

  24. heri Says:

    sam seperti yang ditanyakan Bp Hariyadi saya mau tambah pertanyaan lagi,apakah ukuran tekanan sama dengan R 22,tolong kirim email ke heri_padamara@yahoo.co.id

  25. Agus Fitriandi Says:

    Pak Hariyadi dan Pak Heri Yth., permintaan Bapak sudah saya kirim via e-mail. Semoga bermanfaat.

  26. mfuad Says:

    boleh tahu , dimna tempat uji komposisi astm 2163, water content, sulfur utk refigeran hc

  27. zaki Says:

    Pak, Saya belum menerima booklet petunjuk pengisian HC pada sistem refrigerasi seperti yg direncanakan dikirim via email. Sekalian Pak, saya jg butuh P-h Chart (pressure-enthalpy) terutama untuk MC-12.
    Terima kasih.

  28. Agus Fitriandi Says:

    O, iya Pak Zaki…baru saya email. Maaf, dl lupa liat email address Bapak…

  29. ike midiani Says:

    Saya seorang tenaga pengajar di Jurusan Refrigerasi dan Tata udara. Saya ingin menerapkan penggunaan refrigeran Musicool di lab. Ref. dan Tata udara. Namun Saya masih belum memiliki data tentang Tabel Musicool cairan, uap jenuh dan panas lanjut. kalau bisa data tabel untuk mc-12,mc-22, mc-134.
    Berikut alamat e-mail saya.
    Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

    • Agus Fitriandi Says:

      Baik Bu Ike Midiani, salam kenal. Saya segera kirim data propetisnya. Kalau untuk data MC-22 yang lebih detil, ibu bisa pakai data propertiesnya “Propana”, karena MC-22 memang dibuat dari Propana. Semoga bermanfaat…

  30. Rai Adhisurya Says:

    Hmm.., hello mas agus slm knl dr sy ms. ikt bc2 info yg dsini ya…, sy mahasiswa yg lg meneliti lebih lanjut analisis perbandingan R-12 dan hidrokarbon nya. tdnya sy cm pgn cr entalpi nya aj. e tau nya trlihat lbh enak d baca nya. kbtulan sy lbh mengarah ngitung COP (Coefficient Of Performance) nya mas. brgkali mw mengingatkan sesuatu yg g sy pikirkan tp mgkn mas memikirkan nya.. brhubungan dgn analisis sy. kirimin ke email sy y mas. Thx bgt brother…
    _Teknik Mesin_

  31. Rai Adhisurya Says:

    rai_itenas@yahoo.co.id

  32. Agus Setyawan Says:

    Mohon tanya Pak.
    Apakah benar Departemen Perdagangan dan Industri melalui Kep Men nya melarang diperdagangkan atau diimport produk kompresor yang masih menggunakan refrigerant 12 dan 22?
    Jika demikian bukankah produk Musicool tidak akan terjual? Tetapi jika benar, produk pengganti kompressor seperti apa yang sesuai dengan penggunaan Musicool 12 dan 22?
    Mohon pencerahannya Pak.
    Saya ucapkan terima kasi atas jawabannya.

    • Agus Fitriandi Says:

      Pak Agus. Sebenarnya Kepmenperindag yang dimaksud Bapak adalah mengenai pelarangan memproduksi barang yang menggunakan Ozon Depleting Substance (ODS) dan kewajiban barang baru menggunakan zat non ODS. Bahan ODS dan barang yang terbuat dari ODS hanya dapat diperdagangkan sampai 2005 (Kep. Menperindag No: 110/MPP/Kep/1/1998). Jadi bukan kompressornya yang di larang, tapi kompressor yang masih memakai ODS. Jadi AC dengan menggunakan hidrokarbon tidak dilarang, meskipun kompressornya adalah kompressor yang bisa memakai R-12. Jadi justru Musicool bisa makin banyak dijual. Denger2 Pertamina sdh mualai eksport Musicool ke luar negeri….

Leave a Reply