PENDAHULUAN
CFC (Chloro-Fluoro-Carbon) memegang peranan penting dalam sistem refrigerasi, sejak ditemukan pada tahun 1930. Hal ini dikarenakan CFC memiliki properti fisika dan termal yang baik sebagai refrigeran, stabil, tidak mudah terbakar, tidak beracun dan kompatibel terhadap sebagian besar bahan komponen dalam sistem refrigerasi. Akan tetapi setelah masyarakat mengetahui hipotesa bahwa CFC termasuk Ozone Depleting Substance (ODS), yaitu zat yang dapat menyebabkan kerusakan ozon, masyarakat mulai mencoba melakukan penghentian pemakaian ODS dan dituangkan ke dalam beberapa konvensi, seperti Vienna Convention pada bulan Maret 1985, Montreal Protocol pada bulan September 1987 dan beberapa amandemen lainnya. Pemerintah Indonesia telah meratifikasinya melalui Keppres RI No. 23 tahun 1992.
R-134a sebagai salah satu alternatif memiliki beberapa properti yang baik, tidak beracun, tidak mudah terbakar dan relatif stabil. R-134a juga memiliki kelemahan di antaranya, tidak bisa dijadikan pengganti R-12 secara langsung tanpa melakukan modifikasi sistem refrigerasi (drop in subtitute), relatif mahal, dan masih memiliki potensi sebagai zat yang dapat menyebabkan efek pemanasan global karena memiliki Global Warming Potential (GWP) yang signifikan. Selain itu R-134a sangat bergantung kepada pelumas sintetik yang sering menyebabkan masalah dengan sifatnya yang higroskopis.
Alternatif lain yang ditawarkan adalah refrigeran hidrokarbon. Sebenarnya hidrokarbon sebagai refrigeran sudah dikenal masyarakat sejak 1920 di awal teknologi refrigerasi bersama fluida kerja natural lainnya seperti ammonia, dan karbon dioksida. Hidrokarbon yang sering dipakai sebagai refrigeran adalah propana (R-290), isobutana (R-600a), n-butana (R-600). Campuran yang sering digunakan di antaranya R-290/600a, R-290/600 dan R-290/R-600/R-600a.
Hidrokarbon memiliki beberapa kelebihan seperti ramah lingkungan, yang ditunjukkan dengan nilai Ozon Depleting Potential (ODP) nol, dan GWP yang dapat diabaikan, properti termofisika dan karakteristik perpindahan kalor yang baik, kerapatan fasa uap yang rendah, dan kelarutan yang baik dengan pelumas mineral.
Pemakaian hidrokarbon dengan isu hemat energi dan ramah lingkungan masih belum bisa diterima secara luas seperti pemakaian freon sebagai refrigeran. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran masyarakat akan sifat hidrokarbon yang bisa terbakar. Sifat ini sebenarnya tidak membahayakan jika digunakan sesuai prosedur yang benar. Untuk memahami bekerja dengan prosedur yang benar, mau tidak mau diperlukan pengetahuan tentang karakteristik hidrokarbon. Seperti pepatah mengatakan, “tak kenal maka tak sayang”, kita tidak akan mau menggunakan hidrokarbon jika tida mengenalnya.
REFRIGERAN DAN ASPEK LINGKUNGAN
Refrigeran kelompok halokarbon merupakan refrigeran sintetik karena tidak terdapat di alam secara langsung. Refrigeran ini mempunyai satu atau lebih atom dari golongan halogen; khlorin, fluorin dan bromin.Meskipun dari segi teknik refrigeran ini mempunyai sifat yang baik, seperti kestabilan yang tinggi, tidak mudah terbakar dan tidak beracun, refrigeran ini termasuk ODS. Jika gas CFC yang memiliki dua atom khlorin terlepas ke udara dan terkena sinar ultraviolet akan terurai. Atom khlorin (Cl) akan terlepas dan bereaksi dengan ozon (O3) mengambil satu atom oksigen dari ozon untuk membentuk khlorin monoksida dan oksigen. Khlorin monoksida akan bereaksi dengan atom oksigen lainnya membentuk molekul oksigen dan atom khlorin membentuk oksigen. Atom khlorin hanya beraksi sebagai katalis dalam reaksi. Oleh karena itu satu atom khlorin mampu terus menerus mengubah ozon menjadi oksigen melalui ribuan reaksi sejenis. Proses perusakan ozon ini ditunjukkan pada Gambar 1 dan 2.
Gambar 1 Proses penguraian CFC [1]
Gambar 2 Pemecahan ozon [1]
Dengan menipisnya lapisan ozon, lapisan pelindung yang terletak pada ketinggian sekitar 15-50 km di atas permukaan bumi, radiasi ultraviolet dari matahari akan langsung sampai ke bumi yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan gangguan keseimbangan ekosistem. Ringkasan perbandingan dampak refrigeran terhadap lingkungan CFC-12, HCFC-22, HCFC-134a dan hidrokarbon ditunjukkan pada Tabel 1. Terlihat bahwa hidrokarbon adalah refrigeran yang ramah lingkungan, karena tidak merusak ozon (ODP nol) dan tidak menyebabkan pemanasan global (GWP diabaikan).
Tabel 1 Perbandingan dampak terhadap lingkungan [2]
| Refrigeran | Formula | Usia aktif (tahun) | ODP | GWP |
| CFC-12 | CCl2F2 | 120 | 1.0 | 4000 |
| HCFC-22 | CHClF2 | 13.3 | 0.055 | 1700 |
| HFC-134a | CH2FCF3 | 14.6 | 0 | 1300 |
| Hidrokarbon | CnHm | <1 | 0 | - |
Kebijakan Internasional dan Nasional Mengenai Dampak Lingkungan Refrigeran
Kesadaran masyarakat internasional akan pentingnya menjaga lapisan ozon dituangkan ke dalam berbagai konvensi, antara lain:
-
Vienna Convention , 22 Maret 1985, Austria, tentang perlindungan ozon.
-
Montreal Protocol, September 16, 1987, Canada. Zat yang termasuk ODS menurut Montreal Protocol antara lain: CFC (R-11, R-12, R-13, R-111, R-112, R-113, R-114, R-115), HCFC (R-22, R-123, R-124, R-141, R-142), Halon (Halon-1211, Halon-1302, Halon-2402), dan lainnya (Carbon Tetrachloride, Methyl Chloroform, Methyl bromide).
-
London Amendement, 27-29 Juni 1990, tentang jadwal penghapusan produksi ODS.
-
Copenhagen Amendement, 23-25 November 1992, Denmark, tentang penjadwalan penghapusan HCFC.
Perhatian pemerintah Inddonesia dituangkan ke dalam berbagai peraturan baik berupa keputusan presiden maupun keputusan menteri antara lain :
-
Kep. Pres No:23 Tahun 1992, meratifikasi Konvensi Wina, Montreal Protocol dan Amendemen London.
-
Kep. Menperindag No: 110/MPP/Kep/1/1998, mengenai pelarangan memproduksi barang yang menggunakan ODS dan kewajiban barang baru menggunakan zat non ODS. Bahan ODS dan barang yang terbuat dari ODS hanya dapat diperdagangkan sampai 2005.
-
Kep. Menperindag No: 111/MPP/Kep/1/1998, mengenai pelarangan import ODS dan pembatasan import CFC-12 untuk keperluan purna jual sampai tahun 2003 sebanyak 700 ton melalui importir terdaftar.
-
Kep. Menperindag No: 410-411/MPP/Kep/9/1998
-
Kep. Menperindag No: 789-790/MPP/Kep/12/2002, mengenai perpanjangan izin import ODS oleh importir terdaftar sampai 31 Desember 2007.
KARAKTERISTIK TERMOFISIKA HIDROKARBON
Pemilihan hidrokarbon sebagai refrigeran alternatif ramah lingkungan pengganti CFC dan HCFC harus memperhatikan beberapa hal diantaranya titik didih pada tekanan normal , kapasitas volumetrik dan efisiensi energi. Titik didih harus diperhatikan untuk menjamin apakah tekanan operasi sama dengan CFC untuk menghindari keperluan penggantian peralatan tekanan tinggi seperti kompresor.
Salah satu refrigeran hidrokarbon yang digunakan sebagai contoh dalam makalah ini adalah MUSICOOL, yang diproduksi oleh Pertamina Unit pengolahan III Plaju. Sifat fisika refrigeran hidrokarbon MUSICOOL berdasarkan pengujian laboratorium Pertamina ditampilkan pada Tabel 2, yang menunjukkan bahwa hidrokarbon MUSICOOL (MC) mampu menggantikan refrigeran sintetik (CFC, HCFC, HFC) secara langsung tanpa penggantian komponen sistem refrigerasi. MC-12 menggantikan R-12, MC-22 menggantikan R-22 dan MC-134 menggantikan R-134a. Sifat fisika dan termodinamik hidrokarbon MUSICOOL memberikan kinerja sistem refrigerasi yang lebih baik, keawetan umur kompresor, dan hemat energi. Beberapa parameter perbandingan kinerja MUSICOOL terhadap refrigeran sintetik pada system refrigerasi dengan beban 1 TR pada suhu kondensasi 100 oF dan suhu evaporator 40 oF. ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 2 Sifat Fisika dan Thermodinamika
| No | Parameter | R-12 | MC-12 | R-22 | MC-22 | R-134a | MC-134 |
| 1. | Normal boiling point, °C | -29.75 | -32,90 | -40.80 | -42,05 | -26.07 | -33,98 |
| 2. | Temperatur kritis, °C | 111,97 | 115,5 | 96 | 96,77 | 101,06 | 113,8 |
| 3. | Tekanan Kritis, psia | 599,9 | 588,6 | 723,7 | 616,0 | 588,7 | 591,8 |
| 4. | Panas jenis cairan jenuh pada 37,8° C, Kj /Kgk | 1,026 | 2,701 | 1.325 | 2,909 | 1,486 | 2,717 |
| 5. | Panas jenis uap jenuh pada 37,8 ° C, Kj/ Kgk | 0.7493 | 2,003 | 0,9736 | 2,238 | 1,126 | 2,014 |
| 6. | Tekanan cairan jenuh pada 37,8 °C, psia | 131,7 | 134,4 | 210,7 | 188,3 | 138,9 | 139,4 |
| 7. | Kerapatan cairan jenuh pada 37,8°C, ( kg/m³ ) | 1263 | 503,5 | 1138 | 471,3 | 1156 | 500,6 |
| 8. | Kerapatan uap jenuh pada 37,8°C ( kg/m³ ) | 51,46 | 17,12 | 62,46 | 28,53 | 47,05 | 17,76 |
| 9. | Kerapatan uap jenuh pada NBP, kg/m³ | 6,29 | 1,642 | 4,705 | 2,412 | 5,259 | 1,642 |
| 10. | Konduktivitas Termal cairan jenuh 37,8°C,w/mk | 0,0628 | 0.0898 | 0.0778 | 0.0868 | 0.0756 | 0.0896 |
| 11. | Konduktivitas Termal uap jenuh 37,8°C,w/m k | 0.0112 | 0.0194 | 0.0128 | 0.0211 | 0.0195 | 0.01955 |
| 12. | Viskositas cairan jenuh pada 37,8°C, uPa-s | 166,5 | 103,6 | 143,1 | 84,58 | 102,5 | 101,6 |
| 13. | Viskositas uap jenuh pada 37,8°C, uPa-s | 12,37 | 7,997 | 13,39 | 9,263 | 8,064 | 8,044 |
Tabel 3 Perbandingan kinerja MUSICOOL dengan refrigeran sintetik
| No. | Parameter | R-12 | MC-12 | R-22 | MC-22 | R-134a | MC-134 |
| 1 | Rasio Tekanan Kompresi | 3.1 | 3.1 | 3.0 | 2.8 | 3.4 | 3.1 |
| 2 | Efek Refrigerasi, Kj/Kg | 1.25 | 314 | 168 | 299 | 159 | 314 |
| 3 | Aliran gas, Cfm/Ton | 8.21 | 3.28 | 6.12 | 3.44 | 6.49 | 3.28 |
| 4 | Koefisien Performance, COP | 3.35 | 3.39 | 3.20 | 3.26 | 3.31 | 3.38 |
| 5 | Temperatur glide, K | - | 7,8 | - | 0.1 | - | 7.7 |
Pemakaian hidrokarbon lebih efisien dibandingkan dengan refrigeran sintetik, yang ini ditunjukan oleh COP (Coefficient of Performance) yang lebih besar. Hal ini disebabkan sbb:
-
Rasio tekanan (perbandingan tekanan dorong dengan tekanan hisap kompresor) yang lebih kecil dari rasio tekanan refrigeran sintetik. Karakteristik ini dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5. Hal ini mengakibatkan kecilnya kerja kompresor yang diperlukan sehingga menghemat konsumsi energi, yang ditunjukkan dengan penurunan arus listrik 10-20%. Oleh karena itu arus listrik name plate tidak bisa dijadikan patokan ketika melakukan retrofit dengan hidrokarbon.
-
Kalor laten dan efek refrigerasi yang lebih besar dari refrigeran sintetik. Karakteristik ini mengakibatkan kapasitas pendinginan dan cooling rate yang lebih besar dari kapasitas pendinginan dan cooling rate dengan refrigeran sintetik. Perbandingan kalor laten dan efek refrigerasi antara freon dan hidrokarbon dapat dilihat pada Gambar 6 dengan 7 dan Gambar 8 dengan 9.
-
Kerapatan (density) hidrokarbon yang lebih kecil dari kerapatan refrigeran sintetik. Hal ini mengakibatkan jumlah pemakaian hidrokarbon lebih sedikit, sekitar 30% dari berat penggunaan refrigeran sintetik untuk volume yang sama.
-
Viskositas yang lebih kecil dari refrigeran sintetik. Hal ini mengakibatkan kecilnya rugi-rugi tekanan sepanjang sistem refrigerasi yang meringankan beban kompresor dan mengawetkan sistem refrigerasi.
Gambar 3 Grafik Tekanan vs Temperatur R-12 dan MC-12
Gambar 4 Grafik Tekanan vs Temperatur R-134 dan MC-134
Gambar 5 Grafik Tekanan vs Temperatur R-22 dan MC-12
Gambar 6 Grafik Entalphi MC-12
Gambar 7 Grafik Entalphi MC-12
Gambar 8 Grafik Entalphi R-22
Gambar 9 Grafik Entalphi MC-22
Sifat Zeotropik dan Azeotropik Hidrokarbon
Refrigeran hidrokarbon dapat berupa zat tunggal (misal MC-22 yang merupakan propana) atau campuran (misal MC-12 dan MC-134 yang merupakan campuran dari propana, isobutana dan n-butana).
Refrigeran hidrokarbon campuran bersifat zeotrop, berperilaku sangat berbeda dibanding dengan zat tunggal atau campuran azeotropik. Campuran ini tidak menguap dan mengembun pada suatu temperatur tetap, tetapi pada kisaran tertentu yang sering di sebut dengan glide. Refrigeran ini tepat berada pada titik didih (buble temperature) saat campuran tepat seluruhnya mencapai keadaan cair yaitu tepat pada akhir proses pengembunan. Refrigeran ini tepat berada pada titik embun (dew temperature) saat campuran tepat seluruhnya mencapai keadaan uap yaitu pada akhir proses penguapan. Temperatur glide ini dapat dilihat pada Gambar 10.
Efek temperatur glide ini akan berpengaruh besar pada proses di dalam evaporator dan kondensor. Temperatur penguapan meningkat dengan semakin lanjutnya proses penguapan berlangsung, sedangkan di dalam kondensor temperatur pengembunan menurun bersamaan dengan berlangsungnya proses pengembunan. Perubahan temperatur pada tekanan tetap ini merugikan efek perpindahan kalor pada evaporator dan kondenser. Oleh karena itu standard maksimal glide temperature yang diijinkan untuk refrigeran adalah 12 K [3].
Dengan dasar itulah maka proses retrofit menggunakan refrigeran hidrokarbon campuran (MC -12 dan MC-134) dilakukan pada fasa cair untuk menjaga komposisi campuran dan menjaga agar glide temperatur tidak berlebih. Retrofit MC-22 bisa dilakukan pada fasa cair dan gas, karena merupakan zat tunggal.
Gambar 10 Efek glide pada sistem refrigerasi berrefrigeran zeotrop[4]
Flammability Hidrokarbon
Hidrokarbon dapat terbakar bila berada di dalam daerah segitiga api yaitu tersedianya : hidrokarbon, udara dan sumber api. Jika salah satu dari ketiga faktor tersebut tidak terpenuhi maka proses kebakaran tidak akan tejadi. Hal ini mengakibatkan tidak akan terjadi kebakaran di dalam sistem refrigerasi karena tidak adanya udara (tekanan sistem refrigerasi lebih tinggi dari tekanan atmosfer).
Hidrrokarbon termasuk kelompok refrigeran A3, yaitu refrigeran tidak beracun yang mempunyai batas nyala bawah (Low Flammability Limit/LFL) kurang daaaari 3,5%. Hidrokarbon dapat terbakar jika berada di antara ambang batas nyala 2-10% volume. Bila konsentrasi hidrokarbon di udara kurang dari 2% maka tidak cukup hidrokarbon untuk terjadinya pembakaran, demikian juga bila konsentrasinya di atas 10% karena oksigen tidak cukup untuk terjadinya pembakaran. Secara praktis batas nyala bawah sekitar 35 g/m3 bagi rata-rata refrigeran HC di udara [3].
Sifat flammable hidrokarbon dapat diantisipasi dengan memperhatikan prosedur dan standard kerja, di antaranya Standard Nasional Indonesia (SNI), standard Inggris BS : 4434 tahun 1995 standard Jerman DIN 7003, standard Australia AS 1596-1989 dan AS 1677.
MATERIAL KOMPATIBILITAS HIDROKARBON
Berdasarkan hasil analisa pengujian secara laboratorium dan aplikasi dilapangan, refrigeran hidrokarbon tidak merusak material sistem refrigerasi. Sifat hidrokarbon terhadap material diantaranya:
-
Tidak merusak semua jenis logam dan desikan yang dipakai sistem refrigerasi
-
Tidak merusak bahan elastomer yang biasa digunakan kecuali elastomer berbahan dasar karet alam dimana CFC, HCFC dan HFC juga dapat merusaknya.
-
Bisa menggunakan pelumas R-12, R-22 dan R-134a, hanya karena sifatnya yang dapat bercampur baik dengan pelumas maka disarankan menggunakan pelumas dengan indeks viskositas yang lebih tinggi.
Tabel 6 menunjukkan hasil tes laboratorium terhadap kandungan logam dan keasaman pada oli pada rentang waktu pemakaian yang sama. Hasil tes ini menunjukkan bahwa refrigeran hidrokarbon lebih kompatibel terhadap material komponen sistem refrigerasi. Sifat hidrokarbon ini mengawetkan komponen sistem refrigerasi.
Tabel 6 Hasil tes kandungan asam dan logam pada oli
|
No |
Refrigeran/ Oli |
Acidity (ppm) |
Fe (ppm) |
Cu (ppm) |
Al (ppm) |
| 1 | CFC-12/ Oli Mineral (Patil, 1997) |
85.34 |
<1 | <1 | <1 |
| 2 | Hidrokarbon / Oli Mineral ( Patil, 1998 ) |
40.54 |
<1 | <1 | <1 |
| 3 | HFC-134a / polyolester oil ( Patil, 1998 ) |
3890 |
60 | 3.25 | 8.7 |
KESIMPULAN
Refrigeran hidrokarbon merupakan refrigeran alternatif jangka panjang refrigeran CFC/HCFC. Dua keunggulaan penting yang dimilikinya adalah ramah lingkungan dan karakteristik termodinamika yang handal sehingga meningkatkan kinerja dan menghemat konsumsi energi sistem refrigerasi secara aman.
DAFTAR PUSTAKA
-
United Nations Environment Programme Industry and Environment, Chillers and Refrigerant Management, United Nations Publication, Paris,1994.
-
Watanabe, Koichi, Widiatmo, Januarius V., Alternative Refrigerants and their thermophysical Properties Research, Seminar on ODS Phase Out, 5-7 Mei 1999, Bali
-
Ecofrig, Refrigeration Appliances Using Hydrocarbon Refrigerants, Ecofrig publication, United Kingdom, 1997.
-
Jazwin, Richard, Alternative Refrigerants, ICI Klea, Wilmington, 1995.
*) Makalah ini disampaikan pada Pelatihan Penggunaan Refrigeran Hidrokarbon pada Mesin Pendingin di Bandung, 18 Desember 2004 yang diselenggarakan oleh Himpunan Praktisi Tata Udara dan Refrigerasi (HIMPATUR). Makalah ini ditampilkan kembali pada web site ini dalam rangka peringatan berakhirnya jangka waktu izin import ODS di Indonesia pada akhir tahun 2007.

December 27, 2007 at 2:25 am |
saya sala satu praktisi tata udara, yang samapai saat ini sekitar 40 % yang sudah menngunakan refrigerant ramah lingkungan, non cfc, yanga jadi kendala adalah masalah muda terbakar, sedangkan pemanfaatan dari non cfc yang terasa adalah pendinginan yang cepat dan penurunan daya,
Sayang rata-rata customer yang menggunakan HC adalah yang sudah tersentuh oleh ISO, bukan sadar lingkungan
alamat himpunan praktisi tata udara dimana yah????
terimakasih
December 27, 2007 at 4:55 am |
Wah, seneng ketemu Pak Yana. Betul Pak, kalau saya lihat juga demikian. Alasan pindah ke HC paling banyak karena tuntutan ISO 14000 (tapi terpaksa), alasan berikutnya karena penghematan yang dihasilkan HC. Belum meluasnya penggunaan HC secara signifikan juga akibat sosialisasi yang masih kurang dari Pemerintah juga Pertamina sebagai salah satu produsennya.
HIMPATUR dulu dibentuk dan dibidani oleh pengajar-pengajar Teknik Pendingin STT Bina Tunggal, Bekasi, jadi kalau ingin berhubungan dengan HIMPATUR akan lebih mudah jika menghubungi Laboratorium Teknik Pendingin STT Bina Tunggal, Jl. H. Wahab Affan No. 1 Pondok Ungu, Medan Satria, Bekasi. Telp. 8844812, Fax 8861147. Contact Person bisa ke Bpk Ir. Tatang Hidayat, MSc atau Bpk Widodo, ST, MT.
July 6, 2008 at 1:48 pm |
Bukannya non cfc itu refrigerant baru dari panasonic ( R 410 a).yg tdk akan merusak lapisan ozon.Mohon penjelasan
July 8, 2008 at 12:59 pm |
Pak Teguh, istilah non CFC itu cakupannya luas, artinya semua refrigeran yang bukan CFC (salah satu merk dagangnya Freon). Non CFC itu ada yang natural dan sintetik. Yang natural adalah hydrokarbon (Propana, Butana dan campurannya). Yang sintetik salah satunya adalah R-410A, yang digunakan sebagai refrigeran alternatif dari R-22 (HCFC) yang sudah di-phased out. R-410A ini merupakan campuran dari difluoromethane (CH2F2 atau R-32) dan pentafluoroethane (C2HF5 atau R-125). R-410A tidak merusak ozon, sayangnya Global Warming Potential (GWP)-nya masih tinggi (sekitar 1725).
September 24, 2008 at 5:46 am |
Kepada Yth:
Bagian Pertamina Unit pengolahan III Plaju.
Dengan hormat, saya widyo salah satu mahasiswa yang sedang mengadakan penelitian akhir tentang “Pengaruh Penelitian Pipa Kapiler pada Saluran Isap Terhadap Performansi Mesin Pengkondisian Udara” saya mengunakan refrigerant musicool dan mengalami kendala perhitungan dengan musicool, dikarenakan tabel yang saya gunakan untuk perhitungan entalphi tidak ada. Karena yang selama ini banyak beredar dan dibuku adalah tabel r-22, kiranya bapak dapat membantu saya dengan memberikan data tentang Tabel mc-22 cairan, uap jenuh dan panas lanjut.
Demikian permohonan saya, atas perhatian serta kebijaksanaan yang bapak berikan kami ucapkan terima kasih.
Yogyakarta,24 September 2008
Pemohon.
Widyo Agung Prabowo.
September 24, 2008 at 8:40 am |
Mas Widyo, surat Mas akan saya sampaikan ke rekan-rekan dari Pertamina. Saya juga memiliki beberapa data Thermofosika (P vs T, Entalphi) refrigeran Musicool yang dikeluarkan Penelitian & Laboratorium Pertamina (data tahun 2003-2004), kalau perlu saya share juga ke Mas Widyo. OK, itu penelitian yang bagus itu Mas, spesifik pada pipa kapiler, jadi bisa lebih dipahami karakteristik lapangan Musicool di situ.
November 11, 2008 at 3:21 am |
Sama seperti mas Widyo Agung Prabowo, saya juga sedang mengkaji pemakaian hidrokarbon pada kapal-kapal niaga namun saya terhambat pada phisical properties n thermodinamic data produk musicool.
mohon bantuannya n terima kasih sebelumnya
surabaya, 11 november 2008
-ariany-
November 11, 2008 at 3:44 am |
@ Ariany: OK Ariany, saya minta alamat emailnya. Saya siap bantu.
@ Mas Widyo: Mas, tolong juga kirim ke saya alamat email, saya kesulitan kontak dengan Mas Widyo.
email saya: andy@jasa-sarana.co.id
November 25, 2008 at 2:37 pm |
no
December 2, 2008 at 2:36 pm |
web site nya baru ketemu lagi…..
masalah dampak lingkungan ( lapisan OZOn), Refrigeran yang paling disoroti adalah R-11 dan R-12 ( ktagori DPO yang tinggi), yang jadi masalah bagi saya sebai praktisi dilapangan adalah penggani R-11, yang biasa di gunaka untuk FLASHING ( membersihka pipa dari kotoran ), ada temen- temen yang tahu penggantinya
terimakasih…
February 24, 2009 at 6:11 am |
saya ingin bertanya , apakah sudah ada aplikasinya mengenai refrigeran hidrokarbon pada chiller centrifugal , kalau ada dimana dan faktor2 apa saja yang perlukan untuk faktor safetynya
February 24, 2009 at 7:33 am |
Pak Rachmat Yth., sepengetahuan saya hidrokarbon murni belum dipakai untuk compressor centrifugal, karena massa jenis hidrokarbon yang kecil. Pada kompressor centrifugal diperlukan impeller Mach number tertentu yang sangat tergantung dengan berat molekul/acoustical velocity refrigerant. Agar bisa dipakai di compressor centrifugal, refrigerant hidrokarbon perlu dicampur dengan refrigerant lain sehingga memenuhi impeller Mach number yang cocok. Dupont sudah mematenkan salah satu campuran refrigerant itu.
March 1, 2009 at 8:53 am |
saya suharto dari teknik fisika itb.
apa anda memiliki grafik musicool-22?
saya membutuhkannya untuk pengerjaan tugas akhir.
kalau ada saya mohon bisa dikirimkan ke email saya. terimakasih.
pixel_axyz@yahoo.com
March 2, 2009 at 1:04 am |
OK Mas Suharto, saya punya. Segera saya kirim. Di TKL Toh? Salam buat pak Wisnu.
March 3, 2009 at 1:47 pm |
Selamat Siang, saya ingin menanyakan apakah ada data2 tentang kantor2 dan perusahaan di semarang yang sudah menggunakan hidrocarbon / musicool ?
March 4, 2009 at 1:09 am |
@ Novax: Maaf, saya tidak punya data kantor/gedung di Semarang yang sudah memakai HC/MC, tapi data untuk wilayah Jadebotabek saya punya. Kalau mau, kontak teman saya yang dulu jadi agen Musicool di Semarang. Mas Resa dari CV Mitra Pratama. Jl Soekarno Hatta No. 28 (Arteri Tlogosari) Semarang. Telp. 024-6732662
March 6, 2009 at 3:45 am |
Mas REZE yang disebutin di atas masih jadi agen Musicool di semarang? Ada agen lain ngga Mas?
March 6, 2009 at 4:23 am |
Pak Rudy, setelah berhasil saya kontak, Mas Resa sudah tidak jadi agen MC, beliau fokus di bidang lain. Kalau mau, Bapak bisa menanyakan lebih lanjut daftar agen Musicool ke UP III Pertamina Plaju atau ke P&L Pertamina Pulogadung. Atau hubungi salah satu agen Musicool GLOBALINDO NIAGA PRIMA, Alamat Kemang Pratama, Jl. Niaga 4 / E-63, Bekasi 17424 – Jawa Barat, ph: 021-95493863. Untuk daerah dekat Semarang, yang sudah pakai Musicool (untuk chiller) kalau tidak salah PT Jarum Kudus.
April 4, 2009 at 8:23 pm |
pak, saya salah satu konsumen refrigerant HC dr kanada…2 unit ac dirumah saya sudah diretrofid dr 6 bln yg lalu…berbagai perbedaan telah saya rasakan…intinya positif dr penghematan & non ODP, Non GWP. saya ining tanya kenapa yg anda tonjolkan hanya musicool….???? biar fair sampaikan juga produk yg lain..saya mau tanya tolong disebutin PH Diagram dari musicool
terima kasih
April 6, 2009 at 4:04 am |
Terima kasih atas comment-nya, Pak Jazai. Syukur, Bapak sudah pakai HC refrigerant dan merasakan manfaatnya.
Kalau di sini saya tonjolkan Musicool (MC), karena saya lebih memiliki data lengkap termophysics Musicool (MC)dibanding HC refrigerant lainnya. Kebetulan saya cukup lama terlibat di awal pengembangan MC (semula Petrozon).
Produk refrigerant selain MC memang banyak Pak, kalau lokal ada Hi Cool, kalau import ada Duracool dan Redtek dari Canada, Hy Chill dari Australia, Cold dari Thailand, dll. Masalah kualitas produknya saya pikir seragam, paling tinggal harganya yang berbeda.
PH diagram MC sudah ditampilkan pada tulisan di atas, Pak, Gambar 7 dan 9.
July 9, 2009 at 2:50 pm |
pak, sy ingin menanyakan bukankah untuk retrofit gas refrigerant ke HC diperlukan alat ? dimana saya bisa mendapat informasi untuk membeli alat tersebut ? dan apakah pengerjaan retrofit ini diperlukan izin ?
July 10, 2009 at 1:35 am |
Alat-alat yang dipakai sama dengan alat2 untuk mengisi refrigeran sintetik (freon). Bapak bisa beli di toko alat-alat refrigerasi. Untuk retrofit standard ramah lingkungan, Bapak memerlukan alat freon recovery, agar freonnya tidak dibuang sembarangan ke udara (akan merusak ozon). Alat vacuum juga bisa dipakai untuk recover si freon ke dalam tabung. Kalau izin pengerjaan retrofit tidak ada, Pak. Yang ada seringnya adalah sertifikat pelatihan penanganan refrigeran hidrokarbon, karena penanganannya berbeda sedikit dengan freon. Pertamina sering mengadakan pelatihan retrofit dg refrigeran hidrokarbon.
August 14, 2009 at 9:38 am |
Pak.
Saat ini saya berencana mengaplikasikan musicool MC-12 pada salah satu unit refrigerasi dengan kompressor hermetic (seperti pd kulkas)sebagai pengganti R-12.
Yang ingin saya tanyakan bagaimana cara pengisian musicool pada unit tersebut? Apakah sama dgn cara pengisian R-12 melalui saluran suction (hisap)? Jika diisi melalui suction, apakah tabung musicool harus dibalik pada saat proses pengisian?
Terima Kasih.
August 14, 2009 at 3:32 pm |
Cara pengisian hampir sama, Pak. Yang perlu diperhatikan adalah aspek safety: terutama jangan merokok saat mengisi. Patokan pengisiannya jangan disamakan dengan massa freon, karena hidrokarbon lebih ringan (sekitar 1/3). Lebih aman menggunakan patokan tekanan sistem refrigerasi. Betul diisi lewat suction, tapi karena hidrokarbon masuk dalam fasa cair, maka pengisian dilakukan secara pelan-pelan (jangan seperti waktu mengisi dengan freon). Tabung refrigeran hidrokarbon tidak perlu dibalik, karena di dalam tabung sudah dilengkapi pipa sampai ke dasar tabung (seperti tabung LPG). Untuk lebih detilnya saya akan kirim e-mail booklet petunjuk pengisian HC pada sistem refrigerasi. Selamat Mengaplikasikan, Pak Zaki…
September 6, 2009 at 1:44 am |
pak saya mau mengganti R 22 dg MC 22 dikantor saya 10 unit,bisakah bapak kirim email ke saya tentang cara penisian MC 22 yang benar & bagaimana dengan R 22,harus dikemanakan ?.bagaimana cara modifikasi mesin vakum menjadi mesin rekoferi ?.
September 6, 2009 at 1:50 am |
sam seperti yang ditanyakan Bp Hariyadi saya mau tambah pertanyaan lagi,apakah ukuran tekanan sama dengan R 22,tolong kirim email ke heri_padamara@yahoo.co.id
September 6, 2009 at 2:14 am |
saya mau ganti R 22 dg MC 22,bagaimana cara penisiannya,R 22 harus dikemanakan,bagaimana modifikasi mesin vakum menjadi esin rekoferi dan cara penggunaanya,alamat email saya heri_padamara@yahoo.co.id
September 7, 2009 at 6:58 am |
Pak Hariyadi dan Pak Heri Yth., permintaan Bapak sudah saya kirim via e-mail. Semoga bermanfaat.
September 11, 2009 at 7:12 am |
boleh tahu , dimna tempat uji komposisi astm 2163, water content, sulfur utk refigeran hc
September 14, 2009 at 1:40 am |
Pak, Saya belum menerima booklet petunjuk pengisian HC pada sistem refrigerasi seperti yg direncanakan dikirim via email. Sekalian Pak, saya jg butuh P-h Chart (pressure-enthalpy) terutama untuk MC-12.
Terima kasih.
September 16, 2009 at 2:09 am |
O, iya Pak Zaki…baru saya email. Maaf, dl lupa liat email address Bapak…
October 3, 2009 at 3:22 am |
Saya seorang tenaga pengajar di Jurusan Refrigerasi dan Tata udara. Saya ingin menerapkan penggunaan refrigeran Musicool di lab. Ref. dan Tata udara. Namun Saya masih belum memiliki data tentang Tabel Musicool cairan, uap jenuh dan panas lanjut. kalau bisa data tabel untuk mc-12,mc-22, mc-134.
Berikut alamat e-mail saya.
Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.
October 5, 2009 at 10:33 am |
Baik Bu Ike Midiani, salam kenal. Saya segera kirim data propetisnya. Kalau untuk data MC-22 yang lebih detil, ibu bisa pakai data propertiesnya “Propana”, karena MC-22 memang dibuat dari Propana. Semoga bermanfaat…
October 7, 2009 at 4:21 pm |
Hmm.., hello mas agus slm knl dr sy ms. ikt bc2 info yg dsini ya…, sy mahasiswa yg lg meneliti lebih lanjut analisis perbandingan R-12 dan hidrokarbon nya. tdnya sy cm pgn cr entalpi nya aj. e tau nya trlihat lbh enak d baca nya. kbtulan sy lbh mengarah ngitung COP (Coefficient Of Performance) nya mas. brgkali mw mengingatkan sesuatu yg g sy pikirkan tp mgkn mas memikirkan nya.. brhubungan dgn analisis sy. kirimin ke email sy y mas. Thx bgt brother…
_Teknik Mesin_
October 9, 2009 at 9:52 am |
OK Rai, salam kenal juga. Aku emailkan beberapa contoh analisisnya. Di Itenas kalau ga salah ada pak Mohamad Romadhon ya? Beliau paham juga. Salam
October 7, 2009 at 4:23 pm |
rai_itenas@yahoo.co.id
November 18, 2009 at 5:36 am |
Mohon tanya Pak.
Apakah benar Departemen Perdagangan dan Industri melalui Kep Men nya melarang diperdagangkan atau diimport produk kompresor yang masih menggunakan refrigerant 12 dan 22?
Jika demikian bukankah produk Musicool tidak akan terjual? Tetapi jika benar, produk pengganti kompressor seperti apa yang sesuai dengan penggunaan Musicool 12 dan 22?
Mohon pencerahannya Pak.
Saya ucapkan terima kasi atas jawabannya.
November 18, 2009 at 1:47 pm |
Pak Agus. Sebenarnya Kepmenperindag yang dimaksud Bapak adalah mengenai pelarangan memproduksi barang yang menggunakan Ozon Depleting Substance (ODS) dan kewajiban barang baru menggunakan zat non ODS. Bahan ODS dan barang yang terbuat dari ODS hanya dapat diperdagangkan sampai 2005 (Kep. Menperindag No: 110/MPP/Kep/1/1998). Jadi bukan kompressornya yang di larang, tapi kompressor yang masih memakai ODS. Jadi AC dengan menggunakan hidrokarbon tidak dilarang, meskipun kompressornya adalah kompressor yang bisa memakai R-12. Jadi justru Musicool bisa makin banyak dijual. Denger2 Pertamina sdh mualai eksport Musicool ke luar negeri….