Potensi Gasified Petroleum Condensate (GPC) Sebagai Bahan Bakar Alternatif

October 31, 2007

surface-facilities.jpgSecara umum terjadinya peningkatan kebutuhan energi mempunyai keterkaitan erat dengan perkembangan kegiatan ekonomi dan pertumbuhan jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang semakin bertambah dan pertumbuhan ekonomi yang terus berlangsung mengakibatkan peningkatan kebutuhan energi di Indonesia sebagai suatu hal yang tak bisa dihindari.

Kenaikan harga energi secara global telah memaksa pemerintah untuk menaikan harga BBM untuk mengurangi beban subsidi yang ditanggungnya. Permasalahan ini ditambah dengan terjadinya penurunan produksi BBM nasional. Indonesia telah menjadi salah satu negara pengimpor minyak. Hal ini terlihat di akhir tahun 2005, Indonesia telah mengimpor sekitar 45 % kebutuhan BBM dalam negeri, dan bahkan sudah mengimpor LPG (Bakti, 2005).

Untuk menghadapi tantangan di bidang energi ini, secara umum ada tiga cara untuk me-manage penggunaan energi : Pertama, pengurangan permintaan terhadap energi. Hal ini bisa melalui kesadaran sendiri maupun melalui peraturan atau kebijakan pemerintah. Kedua, menggunakan metode, proses atau peralatan alternatif yang meningkatkan efisiensi pemakaian energi. Ketiga, substitusi suatu bahan bakar dengan sumber energi lainnya. Cara ini tidak mendorong penghematan energi, tetapi dapat menggeser permintaan terhadap suatu bahan bakar ke bahan bakar yang lain sehingga menghemat bahan bakar yang langka (Smith, 1981).

Masyarakat harus  mulai dikondisikan, diperkenalkan dan diajarkan menggunakan sumber energi lain yang baru untuk menggantikan bahan bakar minyak yang selama ini dikenal yaitu : bensin, solar dan minyak tanah melalui langkah-langkah yang realistis.

Saat ini pemerintah telah mencanangkan program konversi minyak tanah rumah tangga dengan LPG. Program ini memang cukup strategis untuk memangkas besarnya subsidi negara untuk BBM. Namun akan lebih strategis lagi apabila konversi minyak tanah ini tidak hanya dilakukan dengan LPG saja. Program konversi ini seolah-olah langsung menghapus program pemanfaatan briket batu bara yang belum lama juga disosialisasikan oleh pemerintah*.  Pemerintah sudah selayaknya mempertimbangkan penggunaan sumber energi (bahan bakar) dengan berbasis pada sumber daya alam yang kita miliki, salah satunya adalah batu bara yang sangat melimpah di Indonesia. Indonesia juga memiliki sumber energi bahan bakar yang belum dikembangkan secara optimal, yaitu kondensat. 

GASIFIED PETROLEUM CONDENSAT (GPC)

Kegiatan pengeboran migas, tidak hanya menghasilkan minyak mentah (crude) tapi juga menghasilkan bahan-bahan lainnya, termasuk fraksi yang lebih ringan dari crude diantaranya kondensat. Kondensat selama ini dimanfaatkan sebagai campuran crude untuk keperluan pemompaan, sebagai solvent dan bahan petrokimia lainnya. Karena kualitas kondensat yang dihasilkan tiap sumur bervariasi, maka  tidak semua kondensat dapat dimanfaatkan secara komersial di pasar. Kondensat yang belum termanfaatkan tersebut biasanya dimanfaatkan untuk own usage sebagai bahan bakar kilang.

Dalam rangka diversifikasi energi dan meningkatkan nilai tambah kondensat sehingga lebih dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat luas, Pertamina telah melakukan penelitian dan pengembangan kondensat untuk bahan bakar alternatif dengan nama Gasified Petroleum Condensat (GPC).

Sesuai dengan namanya, GPC menggunakan bahan baku utama kondensat. Produksi GPC dilakukan dengan cara memompakan kondensat dari vessel ke tabung yang kemudian ditambah gas pendorong (propellant).

GPC ini memiliki keunggulan ekonomis dibandingkan dengan bahan bakar yang dikenal sekarang ini (LPG dan minyak tanah) yaitu harga yang relatif murah namun memiliki nilai kalor yang relatif tinggi.  Nilai kalor dari GPC sekitar 10.000 – 12000 cal/gram, hampir setara dengan LPG,  sedangkan nilai kalor kalor  dari kerosine sekitar 9900 – 11100 cal/gram (Bakti, 2005).

Secara teknis pemakaian GPC relatif mudah, seperti penggunaan LPG. Hanya saja untuk penyalaan awal pada kompor GPC rumah tangga masih memerlukan pemanasan awal (pre heating). Masalah ini diharapkan akan dapat dipecahkan seiring dengan perkembangan teknologi kompor GPC. Penggunaan GPC pada kompor jenis semawar (kompor pedagang) dan burner industri (jenis coil burner) lebih mudah, karena langsung bisa dinyalakan seperti halnya menggunakan bahan bakar minyak tanah sebelumnya.

POTENSI PASAR

GPC dapat dijadikan energi alternatif untuk rumah tangga maupun industri, karena teknologi yang dipakai sederhana dan mudah diaplikasikan. GPC diperkirakan mampu mengambil potensi pasar dari pengguna minyak tanah, LPG,  maupun potensi pasar baru mengingat harga GPC direncanakan diantara harga Minyak tanah maupun LPG. 

POTENSI PENGHEMATAN DEVISA

Jika GPC dijadikan alternatif pengganti minyak tanah atau kerosine maka pemerintah bisa menghemat devisa negara. Seperti kita ketahui kebutuhan BBM dalam negeri tidak dapat dipenuhi oleh kilang-kilang Pertamina, sebagian harus diimpor. Jika kita mengimpor kerosine sebanyak 30MBPD dan selisih harga kerosine dan harga kondensat di pasar luar negeri saat ini sekitar US$10, maka akan dapat dihemat devisa sekitar 108 juta US$/tahun (Bakti, 2005).

Kondensat, sebagai hasil ikutan eksploitasi lapangan migas maupun produk sampingan kilang, cukup berlimpah di Indonesia. Produksi kondensat di Indonesia diperkirakan sekitar 130,000 – 140,000 BPD (diolah dari data DESDM, 2004). Potensi pasokan kondensat juga bisa diperoleh dari pemanfaatan lapangan-lapangan migas marginal yang banyak tersebar.

POTENSI KERJA SAMA

Pertamina sebagai pemilik teknologi pembuatan GPC dan bahan, dalam waktu dekat, belum berencana untuk memproduksi GPC karena pertimbangan investasi. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di wilayah penghasil kondensat bisa memanfaatkan peluang ini dengan menjadi mitra Pertamina dalam pengembangan GPC sebagai bahan bakar alternatif. Kerja sama ini diharapkan bisa mempercepat realisasi pengembangan GPC, sebagai langkah mendukung program konversi minyak tanah yang berbasiskan potensi energi setempat: kondensat.

 

*) Memang briket batu bara kurang cocok sebagai bahan bakar alternatif minyak tanah bagi segmen rumah tangga. Bagi rumah tangga miskin jelas batu bara menjadi mubazir. Batu bara akan efektif setelah dipanaskan cukup lama, padahal hanya untuk sekedar menggoreng ikan asin yang hanya beberapa menit. Untuk masyarakat menengah ke atas jelas batu bara tidak praktis. Ada kecenderungan bahwa semakin maju dan makmur masyarakat, mereka akan beralih dari bahan bakar padat ke gas. Intinya adalah kepraktisan. Jadi batu bara padat memang hanya cocok sebagai bahan bakar alternatif bagi segmen industri atau komersial.

Referensi:

Bakti, Edwin, Diversifikasi Produk BBM. Seminar Strategi Ketahanan Energi Jawa Barat Visi Tahun 2010. & Desember 2005. Bandung

Smith, Craig B.  (1981). Energy Management Principles Aplications Benefits Savings, New York, Pergamon Press


Meneladani Human Resource (HR) Management Ala Rasul

October 1, 2007

rapat-js.JPGManajemen sumber daya manusia yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW didasarkan pada konsep Islam mengenai manusia itu sendiri. Konsep Pertama: Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan. Oleh karena itu segala kegiatan manusia harus merupakan bentuk ibadah, ibadah dalam arti luas, tidak hanya ibadah yang bersifat ritual. Setiap kegiatan manusia bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk mencari ke-ridlo-an Tuhan. Bermasyarakat yang baik adalah ibadah, bekerja dengan giat merupakan ibadah, bahkan tidur pun bisa bernilai ibadah.  Konsep kedua: Manusia adalah khalifatullah fil ardhli – wakil Allah di bumi, yang bertugas memakmurkan bumi. Konsekuensi dari kedua konsep ini adalah segala kegiatan manusia akan dinilai dan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.

Dengan konsep tersebut Islam memandang bahwa masalah memange manusia bukan masalah yang sepele. Islam mengusahakan sumber daya manusia untuk ikut memakmurkan bumi dalam lingkup pengabdian kepada Tuhan dengan memanfaatkan seoptimal mungkin potensi yang telah dianugerahkan oleh Tuhan.

Rasulullah telah memberi teladan yang bisa diaplikasikan ke dalam lingkup HR Management dari mulai recruitment/selection, compensation dan organizing.

Dalam hal recruitment & selection, beliau sangat mementingkan profesionalisme. Beliau bersabda, “Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat (kehancuran)-nya.” (HR Bukhari dan Ahmad). Rasulullah juga bersabda, “Siapa yang mengangkat seseorang sebagai pegawai dari suatu kaum, padahal pada kaum itu terdapat seseorang yang diridhai Allah (cakap, soleh dan beriman) maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. (HR al-Hakim).

Rasulullah sangat memperhatikan masalah remunerasi. Dalam hadis riwayat Abdur-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri, Nabi s.a.w. bersabda: “Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya.” Sedangkan dalam Hadis Riwayat Ibn Majah dari Ibnu Umar, bahwa Nabi bersabda: “Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.”

Dalam hubungannya dengan organizational management, Rasulullah adalah manager yang piawai dalam mendelegasikan suatu tugas kepada para sahabatnya. Kemampuan pendelegasian yang baik ini dikarenakan beliau sangat mengenal karakter, potensi dan (minat) masing-masing sahabatnya. Ada yang menarik dalam sejarah Islam, Umar bin Khatab adalah seorang yang tinggi besar, kuat serta pandai berperang. Akan tetapi Umar tak pernah diangkat menjadi panglima perang. Justru Usamah, pemuda 16 tahun, pernah ditugaskan menjadi seorang panglima perang. Itu karena Rasulullah paham, bahwa selain memiliki kompetensi dalam berperang, Umar memiliki kompetensi sebagai seorang pemimpin (khalifah). Dan ia disiapkan untuk itu.

Rasulullah juga telah mencontohkan implementasi Participative Management. Beliau kerap melibatkan para sahabatnya dalam pengambilan keputusan. Contoh yang monumental tentang manajemen partisipatif ini bisa dilihat dari keberhasilan Rasul dan sahabat dalam perang Khandaq.

Di samping itu, Rasulullah juga sangat piawai dalam memberikan motivasi kepada sahabatnya secara tepat sesuai keadaan sahabatnya. Beliau tidak hanya memotivasi untuk masalah akhirat saja, Beliau juga memotivasi para sahabatnya untuk selalu optimal di semua posisi dan peran kehidupan masing-masing.

Yang menarik adalah Rasulullah memberikan perhatian yang istimewa kepada semua sahabatnya, sehingga diriwayatkan bahwa setiap sahabat merasa bahwa dia adalah orang yang paling diperhatikan dan dicintai Rasul-Nya. Inilah salah satu bentuk immaterial compensation yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Pada praktiknya, Rasulullah tidak hanya sebagai seorang manager, beliau adalah seorang leader. Dan lebih dari itu, beliau tidak hanya menjadi seorang leader, tetapi leader yang mampu mencetak leader-leader unggul. Hal ini bisa dilihat dari jejak khulafaur rasyidin dan semua sahabatnya.