Karena Kita Terlalu Banyak Mewarnai Malaysia Sejak Dahulu Kala

September 7, 2009

KLCCAkhirnya  saya tidak tahan juga untuk ikut berkomentar masalah berbagai  klaim budaya dari Malaysia. Banyak apologi yang bisa dipakai untuk tetap berbesar hati terhadap sikap Malaysia, di antaranya kuantitas seni dan budaya Malaysia yang lebih minim, kreativitas yang terbatas, sampai akar budaya yang berasal dari Nusantara.

Mengenai akar budaya Malaysia, sedikitnya ada tiga gelombang pembawa pengaruh budaya Malaysia oleh Nusantara, yakni:

1. Gelombang Prajurit Demak

Setelah kekalahan Demak dalam penyerangan Portugis di Malaka tahap II pada tahun 1521, banyak prajurit-prajurit Demak yang malu atau tidak bisa kembali lagi ke Jawa. Mereka menetap dan banyak berkumpul di area yang sekarang dikenal dengan nama Terengganu. Nama ini diambil dari nama sultan Pengganti Pati Unus, yakni saudara iparnya yang bernama Trenggana. Kisah ini bisa dibaca pada novel sejarah tulisan Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Arus Balik. Uniknya justru yang mengenalkan saya untuk membaca novel ini adalah orang Malaysia, Mr. Abd Rahman.

Sebelum penyerangan ini sebenarnya sudah ada beberapa masyarakat Jawa yang tinggal di sekitar Malaka. Konon nama Melayu, berasal dari kosa kata Jawa “mlayu”, yang berarti lari. Karena orang-orang jawa itu “lari” dari tanah Jawa. Kisah ini saya dapat dari teman saya lainnya di Malaysia, Mr. Saharuddin,  yang mengaku sebagai keturunan orang Tanah Melayu.

Gelombang prajurit  itu tentu memberi warna budaya Malaysia…

2. Gelombang Guru-Guru dari Indonesia

Pasca konfrontasi Indonesia-Malaysia 1965, banyak guru (cik gu) malaysia yang belajar di Indonesia yang kemudian mengembangkan pendidikan di Malaysia. Malaysia juga  banyak mengimport guru-guru dari Indonesia. Tak heran Melaysia pernah menyebut Indonesia sebagai Kakak Kandung, kakak yang member teladan. Bahkan sampai sekarang masih banyak guru-guru Malaysia yang belajar tentang pola pendidikan yang lebih dulu diterapkan di Indonesia. Contohnya studi banding tiap tahun guru-guru dari Sabah.

Gelombang guru-guru produk Indonesia itu tentu memberi warna budaya Malaysia juga…

3. Gelombang Tenaga Kerja Indonesia ke Malaysia

Pada  1980-an sampai pertengahan 1990-an, Malaysia mengalami pertumbuhan ekonomi yang berarti di bawah kepemimpinan perdana menteri ke-4, Dr. Mahathir Mohamad. Malaysia mengalami lompatan dari ekonomi berbasis pertanian ke ekonomi berbasis industri manufaktur (elektronika dan komputer). Lompatan ini menyebabkan pergeseran preferensi bidang kerja. Bidang pertanian/perkebunan menjadi kekurangan pekerja keras. Pada periode ini juga, bentang darat Malaysia berubah dengan tumbuhnya beraneka mega-projek infrastruktur.  Ini juga membutuhkan banyak pekerja keras. Dan Indonesia mensuplai kebutuhan itu dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Gelombang TKI itu tentu memberi  warna budaya Malaysia juga…

Dari tiga gelombang tersebut, tidaklah mengherankan apabila ada beberapa bagian masyarakat Malaysia yang kebingungan membedakan mana budaya asli Malaysia dan mana yang berasal  dari Nusantara. Karena kita terlalu banyak mewarnai mereka semenjak dahulu kala…


Salah Satu dari Kita Berasal dari Samudera

August 5, 2009

Und Mas Andi email

*

Di muara ini kita bersatu

Memadukan perbedaan yang kita bawa sedari mula

Karna kita berasal dari gunung dan samudera

**

Perjalanan dari mata air tentu penuh liku

Sering mengalir tanpa tentu

Kadang penuh kadang kering

Kadang keruh kadang bening

***

Untuk itulah satu dari kita harus menjadi samudera

Yang menjernihkan dan mengendapkan segala keruh

Menjaga agar muara tak surut di musim kemarau

****

Dan ketika samudera mendapat badai

Muara adalah tempat mengadu

Membagi segala keluh

*****

Sehingga kebahagiaan selalu terjaga

Sebab muara ini pertemuan yang diridlai Pencipta

******

Bahkan setelah badai berlalu

Angkasa menjadi lebih indah terlihat

*******

Percayalah!


Menikahlah, Tuhan Akan Mengayakanmu*

June 2, 2009

The RingJujur, saya pernah merasa miskin ketika memikirkan rencana untuk menikah. Hampir-hampir perasaan itu menjadi alasan bagi saya untuk menunda-nunda pernikahan. Tapi saya bersyukur, banyak teman-teman saya yang mengingatkan. Salah satunya dengan mengutip satu ayat Al Quran,  ”Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengayakan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui.” (An Nuur: 32).

Hmm…Saya percaya atas janji Tuhan. Tapi dengan kondisi iman kita yang naik turun, kadang perlu waktu untuk memahaminya. Sekedar berbagi, saya coba tuliskan beberapa point bahan perenungan tentang hubungan antara menikah dan menjadi kaya.

Satu, menikah itu menyucikan. Dengan menikah maka hilanglah kebiasaan-kebiasaan kita yang buruk dan jelek yang sering kita lakukan sebelum menikah. Pada hal perbuatan-perbuatan buruk itu menutupi qalbu kita seperti noda yang menutupi kaca. Sebenarnya Tuhan telah menetapkan rezeki bagi kita, tapi karena qalbu kita tertutup, kita tak bisa melihat rezeki meski ia berada di sekitar kita. Dengan kebersihan qalbu, maka akan gamblanglah petunjuk Tuhan**, termasuk petunjuk dalam menjemput rezeki.

Dua, menikah itu menentramkan. Tuhan  memberi kenikmatan-kenikmatan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang telah menikah. Bukan hanya relasi suami-istri saja, tetapi juga relasi orangtua-anak serta berbagai relasi lainnya yang hanya terbentuk melalui pernikahan. Dengan ketentraman ini, IQ, EQ dan SQ kita lebih optimal. Sehingga optimal pula ikhtiar dalam menjemput rezeki.

Tiga, menikah itu mengoptimalkan. Secara matematis bisa diterangkan seperti ini. Menikah itu adalah sarana resultansi positif rezeki sepasang manusia, tapi di sisi lain, menikah itu memungkinkan terjadinya irisan beban (expenses intersection), misalnya suami istri cukup tinggal di satu rumah. Itu semua membuat ekonomi yang efisien. Kehadiran anak-anak bukanlah beban baru, sebab setiap makhluk membawa rezekinya sendiri-sendiri. Tidak hanya potensi ekonomi yang akan lebih optimal, tetapi juga potensi lainnya seperti yang sudah disebut pada point 2.

Empat,  menikah itu mendewasakan. Parameter utama kedewasaan adalah bertanggung jawab.  Menikah itu menguatkan semangat bertanggung jawab. Adanya istri yang kemudian diikuti kehadiran anak-anak, akan menimbulkan perasaan yang amat kuat untuk melaksanakan secara sempurna tanggungjawab sebagai seorang suami dalam menafkahi istri dan keluarga. Semangat tanggung jawab inilah yang memberi kita kekuatan ekstra untuk menjemput rezeki.

Lima, menikah itu mengayakan jiwa. Keempat point di atas pada hakikatnya akan mengayakan jiwa. Rasulullah pernah mengatakan bahwa kaya bukanlah dengan banyaknya harta, tapi kekayaan sejati adalah karena kaya jiwanya. Oleh karena itu tidak lah mengherankan apabila Rasulullah juga mengatakan bahwa istri shalihah adalah harta simpanan yang tak akan pernah habis. Istri shalihah akan selalu mengalirkan kasih sayang, memberikan semangat  serta memperkaya jiwa kita  selama melintasi ujian kehidupan. Dan  itu tak akan ada habis-habisnya, karena istri shalihah akan menemani kita sampai akhirat kelak…

Untuk mendukung argumen di atas, saya akan menceritakan dua kasus empiris. Kasus Pertama. Saya punya teman, anak tukang becak. Sebelum menikah dia termasuk pemuda yang nakal. Malu menjadi anak tukang becak. Kerjaannya hanya ngelayap. Dia paling tidak suka melihat ayam-ayam peliharaan bapaknya, bahkan sering melempari ayam-ayam itu dengan batu. Setelah ia menikah dan bapaknya wafat, semangat bertanggung  jawab berkeluarga membuatnya mau berikhtiar menjemput rezeki dengan menjadi tukang becak, becak peninggalan sang Bapak. Untuk menambah penghasilan, bahkan ia malah beternak ayam di belakang rumahnya. Ekonomi keluarganya sekarang sudah cukup maju. Dia sering mengatakan, “inilah berkah pernikahan…”

Kasus ke-dua. Ada teman saya yang lain. Ia menikah muda. Selepas kuliah. Waktu itu ia hanya bekerja serabutan di rental computer. Pernah beberapa waktu setelah mereka menikah, saya datang ke kontrakan mereka. Mereka sedang makan sepiring nasi berdua hanya dengan garam karena keuangan yang terbatas. Tapi setelah beberapa bulan, rezeki Allah itu datang. Ia mendapat pekerjaan yang mapan. Bahkan usaha rentalnya semakin berkembang.

Jadi memang tak ada alasan menunda pernikahan karena kita merasa miskin. Yang penting adalah niat yang bersih dan kuat untuk melaksanakan perintah Allah. Niat ini kemudian diikuti dengan semangat bertanggungjawab sebagai seorang suami dalam menafkahi keluarga. Selanjutnya kita tinggal menapaki hari-hari dengan menyempurnakan ikhtiar dan mengkhusyukkan doa. Dan pada saatnya, kita akan menyaksikan bahwa tak ada yang diragukan dari janji Allah, ”jika mereka miskin Allah akan mengayakan mereka dengan karunianya. “

*) Teruntuk  seorang wanita shalihah yang bersedia menikah dengan lelaki miskin.

**) Ada yang menarik dalam rangkaian surat An Nuur. Surat ini dinamakan An Nuur, karena terdapat satu ayat yang menjelaskan Nuur (cahaya). Yakni perumpamaan tentang cahaya (petunjuk) Allah. Apabila diperhatikan, ayat yang menerangkan cahaya ini berada persis setelah rangkaian ayat-ayat yang menerangkan tentang kesucian keluarga melalui pernikahan. Jadi secara implisit Allah hendak menekankan betapa pentingnya pernikahan sebagai jalan memperoleh cahaya (petunjuk) Allah.


Pilpres dan Lubang Jalan di Bandung

May 16, 2009

SBY BerboediSaya heran sekaligus senang saat melihat jalan berlubang di perempatan Simpang Dago kemarin telah diperbaiki. Sudah berbulan-bulan lamanya lubang di jalan ini dibiarkan. Lubang memanjang dengan luas sekitar 1 meter persegi dan kedalaman 10-15 cm ini jelas sangat membahayakan pengguna jalan, terutama bagi pengendara sepeda motor. Kalaupun tidak terjadi kecelakaan, lubang jalan ini menghambat kelancaran lalu lintas karena mengurangi kapasitas jalan. Uniknya tidak semua lubang di Bandung diperbaiki. Apakah Pemkot Bandung baru menyadari adanya lubang-lubang tersebut? Apakah baru setengah sadar?

Kita beralih ke topik yang lain dulu. Pilpres. Pasangan Capres-Cawapres yang sudah dideklarasikan baru JK-WIN*. Megawati dan Prabowo masih mengkalkulasi untung rugi. Sedangkan SBY setelah intens berkomunikasi vertikal, akan menunjukkan Cawapresnya kepada rekan koalisinya. Nama Boediono muncul. Rekan koalisi yang merasa tidak diajak berkomunikasi horizontal ngambek, mengancam akan membentuk poros alternatif.

Lantas apa hubungannya lubang jalan di Bandung dan Pilpres Indonesia kali ini? Tak perlu menggunakan butterfly effect-nya chaos theory untuk mengetahui korelasinya. Partai Demokrat akan mendeklarasikan pasangan Capres dan Cawapresnya di Sabuga – Bandung akhir pekan ini. Jadi demi kelancaran deklarasi ini, jalanan di Bandung yang kira-kira dilewati harus diperbaiki! Sederhana kan?

Kepala saya jadi dipenuhi pertanyaan-pertanyaan iseng. Apakah keberhasilan deklarasi acara partai lebih penting dari keselamatan rakyat? Dana perbaikan jalan itu berasal dari pemerintah atau Partai Demokrat? Apakah fasilitas kenegaraan bisa dipakai oleh presiden, meski pun dia sedang berperan dalam kegiatan partainya? Ah, saya biarkan pertanyaan-pertanyaan itu menggayut begitu saja, menambah daftar pertanyaan dari seorang teman saya setelah melihat spanduk yang sekarang banyak dipasang di Bandung: Apakah SBY akan memenangkan Pilpres jika Cawapresnya adalah Boediono? Bagaimana jika Cawapresnya adalah Boedi Anduk?…

*) Tulisan ini seharusnya di-publish Kamis malam, sayang fasilitas posting di www.indonesiasejahtera.wordpress.com tidak bisa digunakan. Sempat kepikiran apakah ini sabotase sementara?


4 Tips Mencontreng yang Bertanggung Jawab

April 7, 2009

contreng-mangMenjelang Hari Pencontrengan, 9 April  besok, masih banyak masyarakat Indonesia yang bingung untuk memilih partai mana dan (apa lagi) caleg siapa. Termasuk beberapa saudara, teman dan tetangga saya. Oleh karena itu, di sisa waktu yang ada, saya sarikan 4 tips mencontreng partai/caleg yang bertanggung jawab, yakni:

1.       Lihat Platform Partai

Apa dasar pendirian partai yang Anda pilih? Apa visi, misi dan program kerja mereka? Memang tidak ada jaminan platform yang bagus nantinya akan dilaksanakan mereka. Tapi kalau platformnya saja amburadul,  apa yang akan mereka perjuangkan kelak setelah menang?

Berbicara masalah platform, kita tidak bisa lepas dari ideologi Partai. Kalau diibaratkan sebuah rumah susun (Rusun), ideologi adalah pondasinya, platform adalah kerangkanya, caleg adalah pengurusnya dan Anda adalah penghuninya.  Kalau pondasi dan struktur bangunan lemah, bagaimana Rusun Anda akan bertahan dari goncangan gempa bumi  beberapa skala richter saja?

2.       Lihat Track Record Partai

Track record sangat penting. Track record-lah yang bisa memberi keyakinan Anda bahwa partai yang Anda pilih bisa mewujudkan platform yang telah mereka susun. Kalau Anda mengenal partai dengan track record yang bagus, jangan pertaruhkan dengan partai baru yang belum jelas track record-nya.  Masalahnya jadi lain, kalau Anda tak bisa menemukan partai yang ber-track record baik. Kalau Anda rajin mengikuti berita di media massa, Anda tidak akan kesulitan melihat track record sebuah partai dan para anggotanya.

3.       Lihat Track Record Caleg

Kalau pengurus Rusun itu nakal, bagaimana Anda akan merasa aman menyimpan barang-barang berharga di Rusun? Kalau pengurusnya jorok dan tidak disiplin, bagaimana Anda akan merasa nyaman tinggal di dalamnya?

Kalau Anda mengenal caleg yang berkualitas, track record-nya bagus, maka Anda tinggal mudah saja mencontrengnya. Tapi kalau Anda tidak mengenal siapa pun, cukup contreng nama partai yang Anda pilih berdasarkan 2 point di atas.

4.       Tanya Orang yang Anda Percaya

Kalau Anda memang tidak mampu atau tidak sempat untuk melakukan analisis 3 point di atas atau tidak yakin dengan hasil analisis sendiri, ada cara yang paling mudah. Bertanyalah kepada orang yang Anda percaya kapasitas dan kejujurannya.  Jangan sampai kebingungan Anda menjadikan Anda sebagai Golput.  Ingat hasil contrengan Anda turut menentukan nasib bangsa 5 tahun ke depan!