Menikahlah, Tuhan Akan Mengayakanmu*

June 2, 2009

The RingJujur, saya pernah merasa miskin ketika memikirkan rencana untuk menikah. Hampir-hampir perasaan itu menjadi alasan bagi saya untuk menunda-nunda pernikahan. Tapi saya bersyukur, banyak teman-teman saya yang mengingatkan. Salah satunya dengan mengutip satu ayat Al Quran,  ”Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengayakan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui.” (An Nuur: 32).

Hmm…Saya percaya atas janji Tuhan. Tapi dengan kondisi iman kita yang naik turun, kadang perlu waktu untuk memahaminya. Sekedar berbagi, saya coba tuliskan beberapa point bahan perenungan tentang hubungan antara menikah dan menjadi kaya.

Satu, menikah itu menyucikan. Dengan menikah maka hilanglah kebiasaan-kebiasaan kita yang buruk dan jelek yang sering kita lakukan sebelum menikah. Pada hal perbuatan-perbuatan buruk itu menutupi qalbu kita seperti noda yang menutupi kaca. Sebenarnya Tuhan telah menetapkan rezeki bagi kita, tapi karena qalbu kita tertutup, kita tak bisa melihat rezeki meski ia berada di sekitar kita. Dengan kebersihan qalbu, maka akan gamblanglah petunjuk Tuhan**, termasuk petunjuk dalam menjemput rezeki.

Dua, menikah itu menentramkan. Tuhan  memberi kenikmatan-kenikmatan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang telah menikah. Bukan hanya relasi suami-istri saja, tetapi juga relasi orangtua-anak serta berbagai relasi lainnya yang hanya terbentuk melalui pernikahan. Dengan ketentraman ini, IQ, EQ dan SQ kita lebih optimal. Sehingga optimal pula ikhtiar dalam menjemput rezeki.

Tiga, menikah itu mengoptimalkan. Secara matematis bisa diterangkan seperti ini. Menikah itu adalah sarana resultansi positif rezeki sepasang manusia, tapi di sisi lain, menikah itu memungkinkan terjadinya irisan beban (expenses intersection), misalnya suami istri cukup tinggal di satu rumah. Itu semua membuat ekonomi yang efisien. Kehadiran anak-anak bukanlah beban baru, sebab setiap makhluk membawa rezekinya sendiri-sendiri. Tidak hanya potensi ekonomi yang akan lebih optimal, tetapi juga potensi lainnya seperti yang sudah disebut pada point 2.

Empat,  menikah itu mendewasakan. Parameter utama kedewasaan adalah bertanggung jawab.  Menikah itu menguatkan semangat bertanggung jawab. Adanya istri yang kemudian diikuti kehadiran anak-anak, akan menimbulkan perasaan yang amat kuat untuk melaksanakan secara sempurna tanggungjawab sebagai seorang suami dalam menafkahi istri dan keluarga. Semangat tanggung jawab inilah yang memberi kita kekuatan ekstra untuk menjemput rezeki.

Lima, menikah itu mengayakan jiwa. Keempat point di atas pada hakikatnya akan mengayakan jiwa. Rasulullah pernah mengatakan bahwa kaya bukanlah dengan banyaknya harta, tapi kekayaan sejati adalah karena kaya jiwanya. Oleh karena itu tidak lah mengherankan apabila Rasulullah juga mengatakan bahwa istri shalihah adalah harta simpanan yang tak akan pernah habis. Istri shalihah akan selalu mengalirkan kasih sayang, memberikan semangat  serta memperkaya jiwa kita  selama melintasi ujian kehidupan. Dan  itu tak akan ada habis-habisnya, karena istri shalihah akan menemani kita sampai akhirat kelak…

Untuk mendukung argumen di atas, saya akan menceritakan dua kasus empiris. Kasus Pertama. Saya punya teman, anak tukang becak. Sebelum menikah dia termasuk pemuda yang nakal. Malu menjadi anak tukang becak. Kerjaannya hanya ngelayap. Dia paling tidak suka melihat ayam-ayam peliharaan bapaknya, bahkan sering melempari ayam-ayam itu dengan batu. Setelah ia menikah dan bapaknya wafat, semangat bertanggung  jawab berkeluarga membuatnya mau berikhtiar menjemput rezeki dengan menjadi tukang becak, becak peninggalan sang Bapak. Untuk menambah penghasilan, bahkan ia malah beternak ayam di belakang rumahnya. Ekonomi keluarganya sekarang sudah cukup maju. Dia sering mengatakan, “inilah berkah pernikahan…”

Kasus ke-dua. Ada teman saya yang lain. Ia menikah muda. Selepas kuliah. Waktu itu ia hanya bekerja serabutan di rental computer. Pernah beberapa waktu setelah mereka menikah, saya datang ke kontrakan mereka. Mereka sedang makan sepiring nasi berdua hanya dengan garam karena keuangan yang terbatas. Tapi setelah beberapa bulan, rezeki Allah itu datang. Ia mendapat pekerjaan yang mapan. Bahkan usaha rentalnya semakin berkembang.

Jadi memang tak ada alasan menunda pernikahan karena kita merasa miskin. Yang penting adalah niat yang bersih dan kuat untuk melaksanakan perintah Allah. Niat ini kemudian diikuti dengan semangat bertanggungjawab sebagai seorang suami dalam menafkahi keluarga. Selanjutnya kita tinggal menapaki hari-hari dengan menyempurnakan ikhtiar dan mengkhusyukkan doa. Dan pada saatnya, kita akan menyaksikan bahwa tak ada yang diragukan dari janji Allah, ”jika mereka miskin Allah akan mengayakan mereka dengan karunianya. “

*) Teruntuk  seorang wanita shalihah yang bersedia menikah dengan lelaki miskin.

**) Ada yang menarik dalam rangkaian surat An Nuur. Surat ini dinamakan An Nuur, karena terdapat satu ayat yang menjelaskan Nuur (cahaya). Yakni perumpamaan tentang cahaya (petunjuk) Allah. Apabila diperhatikan, ayat yang menerangkan cahaya ini berada persis setelah rangkaian ayat-ayat yang menerangkan tentang kesucian keluarga melalui pernikahan. Jadi secara implisit Allah hendak menekankan betapa pentingnya pernikahan sebagai jalan memperoleh cahaya (petunjuk) Allah.


Pilpres dan Lubang Jalan di Bandung

May 16, 2009

SBY BerboediSaya heran sekaligus senang saat melihat jalan berlubang di perempatan Simpang Dago kemarin telah diperbaiki. Sudah berbulan-bulan lamanya lubang di jalan ini dibiarkan. Lubang memanjang dengan luas sekitar 1 meter persegi dan kedalaman 10-15 cm ini jelas sangat membahayakan pengguna jalan, terutama bagi pengendara sepeda motor. Kalaupun tidak terjadi kecelakaan, lubang jalan ini menghambat kelancaran lalu lintas karena mengurangi kapasitas jalan. Uniknya tidak semua lubang di Bandung diperbaiki. Apakah Pemkot Bandung baru menyadari adanya lubang-lubang tersebut? Apakah baru setengah sadar?

Kita beralih ke topik yang lain dulu. Pilpres. Pasangan Capres-Cawapres yang sudah dideklarasikan baru JK-WIN*. Megawati dan Prabowo masih mengkalkulasi untung rugi. Sedangkan SBY setelah intens berkomunikasi vertikal, akan menunjukkan Cawapresnya kepada rekan koalisinya. Nama Boediono muncul. Rekan koalisi yang merasa tidak diajak berkomunikasi horizontal ngambek, mengancam akan membentuk poros alternatif.

Lantas apa hubungannya lubang jalan di Bandung dan Pilpres Indonesia kali ini? Tak perlu menggunakan butterfly effect-nya chaos theory untuk mengetahui korelasinya. Partai Demokrat akan mendeklarasikan pasangan Capres dan Cawapresnya di Sabuga – Bandung akhir pekan ini. Jadi demi kelancaran deklarasi ini, jalanan di Bandung yang kira-kira dilewati harus diperbaiki! Sederhana kan?

Kepala saya jadi dipenuhi pertanyaan-pertanyaan iseng. Apakah keberhasilan deklarasi acara partai lebih penting dari keselamatan rakyat? Dana perbaikan jalan itu berasal dari pemerintah atau Partai Demokrat? Apakah fasilitas kenegaraan bisa dipakai oleh presiden, meski pun dia sedang berperan dalam kegiatan partainya? Ah, saya biarkan pertanyaan-pertanyaan itu menggayut begitu saja, menambah daftar pertanyaan dari seorang teman saya setelah melihat spanduk yang sekarang banyak dipasang di Bandung: Apakah SBY akan memenangkan Pilpres jika Cawapresnya adalah Boediono? Bagaimana jika Cawapresnya adalah Boedi Anduk?…

*) Tulisan ini seharusnya di-publish Kamis malam, sayang fasilitas posting di www.indonesiasejahtera.wordpress.com tidak bisa digunakan. Sempat kepikiran apakah ini sabotase sementara?


4 Tips Mencontreng yang Bertanggung Jawab

April 7, 2009

contreng-mangMenjelang Hari Pencontrengan, 9 April  besok, masih banyak masyarakat Indonesia yang bingung untuk memilih partai mana dan (apa lagi) caleg siapa. Termasuk beberapa saudara, teman dan tetangga saya. Oleh karena itu, di sisa waktu yang ada, saya sarikan 4 tips mencontreng partai/caleg yang bertanggung jawab, yakni:

1.       Lihat Platform Partai

Apa dasar pendirian partai yang Anda pilih? Apa visi, misi dan program kerja mereka? Memang tidak ada jaminan platform yang bagus nantinya akan dilaksanakan mereka. Tapi kalau platformnya saja amburadul,  apa yang akan mereka perjuangkan kelak setelah menang?

Berbicara masalah platform, kita tidak bisa lepas dari ideologi Partai. Kalau diibaratkan sebuah rumah susun (Rusun), ideologi adalah pondasinya, platform adalah kerangkanya, caleg adalah pengurusnya dan Anda adalah penghuninya.  Kalau pondasi dan struktur bangunan lemah, bagaimana Rusun Anda akan bertahan dari goncangan gempa bumi  beberapa skala richter saja?

2.       Lihat Track Record Partai

Track record sangat penting. Track record-lah yang bisa memberi keyakinan Anda bahwa partai yang Anda pilih bisa mewujudkan platform yang telah mereka susun. Kalau Anda mengenal partai dengan track record yang bagus, jangan pertaruhkan dengan partai baru yang belum jelas track record-nya.  Masalahnya jadi lain, kalau Anda tak bisa menemukan partai yang ber-track record baik. Kalau Anda rajin mengikuti berita di media massa, Anda tidak akan kesulitan melihat track record sebuah partai dan para anggotanya.

3.       Lihat Track Record Caleg

Kalau pengurus Rusun itu nakal, bagaimana Anda akan merasa aman menyimpan barang-barang berharga di Rusun? Kalau pengurusnya jorok dan tidak disiplin, bagaimana Anda akan merasa nyaman tinggal di dalamnya?

Kalau Anda mengenal caleg yang berkualitas, track record-nya bagus, maka Anda tinggal mudah saja mencontrengnya. Tapi kalau Anda tidak mengenal siapa pun, cukup contreng nama partai yang Anda pilih berdasarkan 2 point di atas.

4.       Tanya Orang yang Anda Percaya

Kalau Anda memang tidak mampu atau tidak sempat untuk melakukan analisis 3 point di atas atau tidak yakin dengan hasil analisis sendiri, ada cara yang paling mudah. Bertanyalah kepada orang yang Anda percaya kapasitas dan kejujurannya.  Jangan sampai kebingungan Anda menjadikan Anda sebagai Golput.  Ingat hasil contrengan Anda turut menentukan nasib bangsa 5 tahun ke depan!


Pesan Implisit Slumdog Millionaire

March 7, 2009

jamal-malikSaya baru saja menonton Slumdog Millionaire. Film yang menarik! Saya jadi teringat kembali hakikat seni. Bahwa kesenian tetap bisa menampilkan keindahannya apapun objeknya. Kemelaratan kah. Kekumuhan kah. Wajar saja film ini menyabet penghargaan Oscar untuk 8 kategori, termasuk kategori gambar terbaik.

Namun dari alur cerita yang dibangun, saya menangkap adanya satu kejanggalan. Tapi setelah saya renungkan kembali, saya jadi memiliki pemikiran lain: jangan-jangan kejanggalan ini adalah sebuah pesan yang sengaja disampaikan oleh sutradara secara implisit. Kejanggalan itu adalah perubahan psikis yang drastis tokoh utamanya, Jamal Malik, saat ia kecil dan dewasa. Untuk lebih memahami detil perubahan psikis Jamal, sepertinya saya harus membaca novel sumbernya, Q & A, karya Vikas Swarup.

Awalnya, si kecil Jamal adalah anak yang sangat ceria dan ekspresif meski ia hidup di kawasan kumuh (slum). Salah satu buktinya adalah ketika dia begitu bersemangat untuk melakukan apa saja supaya bisa menemui bintang film pujaannya, Amitabh Bachchan. Sampai-sampai ia rela menceburkan diri ke dalam kakus di pinggir kali. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan adegan-adegan Jamal menjelang remaja. Ia digambarkan sebagai sosok yang pendiam. Apalagi saat ia telah dewasa. Jamal tidak pernah sedikitpun digambarkan gembira, kecuali ketika bertemu kekasih sejatinya, Latika

Pesan implisitnya adalah bahwa peristiwa-peristiwa kelam bisa merubah kepribadian. Sepertinya Jamal memang mengalami trauma demikian. Ini bisa dipahami dengan banyaknya peristiwa yang sangat memukul psikisnya: Ibunya yang dibunuh ekstrimis agamis, kekasih kecilnya yang terenggut, juga kakaknya sendiri, si Salim, yang tega memperkosa kekasihnya, Latika. Dan semua memori itu terputar kembali saat Jamal menjawab satu demi satu pertanyaan di kuis Who Wants to be A Millionaire. Tahap-demi tahap hadiah uang yang ia raih tak sedikitpun merubah ekspresi wajahnya. Ia tidak bersorak. Ia tidak menampakkan kegembiraan. Bahkan ketika ia telah berhasil memenangkan 20 juta rupee (sekitar Rp. 4,6 milyar), ia hanya tersenyum dingin.

Ada satu hal yang menarik juga, film ini tidak menyuguhkan pesan moral secara hitam putih. Memang di dalamnya terdapat konflik Kejahatan vs Kebaikan. Tapi ada saat-saat di mana kejahatan itu diperuntukkan untuk kebaikan. Ini bisa dilihat saat Salim, membunuh seorang germo untuk menolong Jamal dan Latika. Atau tokoh jahat pun tidak selamanya jahat. Ia bisa memiliki sisi baik. Meski Salim pernah memperkosa Latika dan menjadi bodyguard seorang boss mafia yang menyimpan Latika, ia kemudian menolong Latika untuk melarikan diri, dan kemudian membunuh bossnya sendiri. Tapi pesan moralnya memang masih konsiten dengan nilai karma: Siapa menanam dia yang menuai. Akhir cerita bisa ditebak, Jamal yang lurus akhirnya bahagia. Menjadi milyuner. Hidup bersama dengan kekasih sejatinya. Ah, romantisme indiahe.

Saya juga jadi teringatkan masalah kemiskinan yang masih menghantui bumi ini. Memang benar, kadang kemiskinan bisa membuat persoalan begitu rumit. Sampai-sampai Nabi Muhammad mengingatkan: kemelaratan kadang mendekatkan kepada kekufuran. Dan ketika si miskin benar-benar menjadi kufur, si Kaya juga bisa ikut terbawa-bawa di akhirat nanti. Seberapa jauh ia telah berusaha menyantuni si fakir…


Satu Icon Simpang Dago Telah Tiada

February 27, 2009

aki-dkkBagi yang sering melewati jalan simpang Dago, pasti pernah melihat sosok ini. Seorang kakek-kakek kurus hitam, berpeci haji, menjajakan keripik singkong dari pagi sampai malam. Bisa dikatakan si Aki inilah icon Simpang Dago. Icon perjuangan hidup! Siapapun yang melihatnya akan malu. Beliau yang sudah sepuh begitu masih bersedia menyongsong rezeki tanpa meminta-minta.

Saya sering menjumpainya di Masjid dekat kantorku. Beliau memang tinggal di masjid itu. Tidur sambil membantu bersih-bersih. Beliau selalu shalat berjamaah. Apabila sedang berdagang dan tiba waktu shalat, ia selalu ke masjid itu. Dagangannya diletakkan begitu saja di teras masjid. Jadi kalau kadang saya membeli keripik dan beliau masih sibuk mengaji, saya tinggal ambil keripik dan menaruh uangnya di keranjang dagangan. Beliau sudah paham.

Kadang, beliau menahanku ketika buru-buru keluar setelah shalat. Mengajakku berdiskusi tentang masalah akhirat. Dan terus terang, beliau selalu bisa menasihatiku pada saat yang tepat! Sampai kadang-kadang aku berfikir apakah dia malaikat.

Saya pernah menanyakan tentang  keluarganya. Beliau menjelaskan bahwa keluarganya ada di Cirebon. Anak-anaknya sudah mandiri. Itu saja. Jadi saya berasumsi anak-anaknya sudah mandiri tapi dengan kemampuan ekonomi yang terbatas. Saya tidak terlalu hapal jadwal beliau pulang ke Cirebon, tapi sepertinya sebulan sekali. Seringnya hanya 5 hari di sana, kemudian kembali lagi berjualan di Bandung. Minggu ini sudah lebih dari 7 hari setelah pulang ke Cirebon, beliau belum balik lagi. Ternyata memang beliau tidak akan pernah kembali lagi. Setelah pihak masjid mengontak keluarga si Aki di Cirebon, baru terungkap, si Aki sudah wafat. Beliau dipanggil saat sedang tilawah surat yasin.

Jumat tadi, sebelum khatib naik mimbar. Pihak masjid memberitahukan berita wafatnya si Aki. Dan saya baru tahu, bahwa nama beliau adalah Mulyono. Selama ini kami selalu memanggilnya Aki saja. Ya Allah, sebagaimana indahnya nama dan perbuatannya,  muliakanlah ia di sisi-Mu…